Sosok yang akrab disapa Tyas atau DS ini sebelumnya viral usai memamerkan paspor Inggris (British Citizen) milik anak keduanya, yang dinilai publik menyinggung sensitivitas nasionalisme, terlebih mengingat latar belakangnya sebagai mantan penerima beasiswa negara.
Dalam unggahan di Instagram dan Threads, Tyas menuliskan kalimat yang kemudian menuai kecaman keras.
"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA," tulisnya.
Meski Tyas menyebut pernyataan tersebut sebagai luapan kekecewaan pribadi terhadap kebijakan pemerintah, polemik telanjur meluas.
Seiring viralnya kasus ini, rekam jejak lama Tyas di media sosial kembali dibongkar warganet.
Curhatan Lama Soal Ayah, Sushi, dan Psikolog Kembali Viral
Sejumlah unggahan lama Tyas kembali disebarluaskan.
Salah satunya adalah kisah ketika ia pulang ke Indonesia saat hamil empat bulan, usai menjalani studi S2 di Belanda.
Dalam salah satu unggahan, Tyas menulis keinginannya untuk makan sushi di Surabaya.
"Di Surabaya aku pengen banget makan Sushi soalnya harga sushi di Belanda tuh MAHAL..."
Namun keinginannya tersebut disebut tidak terwujud.
Tyas menceritakan dirinya justru dimarahi dan akhirnya makan di tempat lain. Ia juga menekankan kondisi fisiknya saat itu.
"Sekali lagi, Aku datang dari Belanda, lagi hamil anak pertama 4 bulan."
Curhatan ini menjadi sorotan karena di unggahan lain, Tyas menyebut dampak psikologis yang ia alami akibat hubungan dengan ayahnya.
"Sampe sekarang aku bolak balik ke psikolog CUMA BUAT MEMAAFKAN perilaku bapakku."
Unggahan-unggahan tersebut kini kembali dikaitkan dengan narasi kehidupan masa lalu Tyas yang sempat ia gambarkan penuh kesulitan.
Rekam Jejak Pendidikan dan Karier Dwi Sasetyaningtyas
Terlepas dari kontroversi personal, rekam jejak akademik Tyas tergolong mentereng.
Ia merupakan alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), masuk tahun 2009 dan lulus pada 2013 dengan IPK 3,34. Selama kuliah, Tyas aktif sebagai asisten laboratorium.
Pada 2015, ia memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) angkatan PK-35 untuk melanjutkan studi S2 Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology, Belanda, dan lulus pada 2017.
Tesisnya membahas sistem solar Photovoltaic (PV) dengan fokus penerapan di wilayah terpencil seperti Pulau Sumba, NTT.
Sebelum studi ke luar negeri, Tyas sempat bekerja sebagai Customer Business Development Manager di perusahaan multinasional P&G.
Sepulangnya ke Indonesia dan menjalani masa pengabdian LPDP periode 2017–2023, ia dikenal aktif sebagai sociopreneur dan pegiat lingkungan.
Ia menginisiasi penanaman 10 ribu pohon bakau, memberdayakan ibu rumah tangga, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatra, serta membantu pembangunan sekolah di NTT.
Tyas juga dikenal sebagai pendiri dan penggerak sejumlah platform komunitas.
Tinggal di Inggris, Polemik Merembet ke Suami
Saat ini, Tyas menetap di Inggris untuk mendampingi sang suami, Arya Pamungkas Iwantoro, yang bekerja sebagai Senior Research Consultant di University of Plymouth.
Polemik kian membesar setelah diketahui sang suami juga merupakan alumni penerima beasiswa LPDP.
Berbeda dengan Tyas yang dikonfirmasi telah menuntaskan kewajiban pengabdiannya, Arya disebut diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusi di Indonesia usai menamatkan studi.
LPDP pun menyatakan akan memanggil Arya untuk klarifikasi.
Jika dugaan tersebut terbukti, sanksi berat disebut dapat dijatuhkan, termasuk kewajiban mengembalikan dana beasiswa yang telah diterima.
Kasus Dwi Sasetyaningtyas kini bukan sekadar soal paspor anak berstatus WNA.
Jejak digital lama, termasuk curhatan soal keluarga, ayah, hingga psikolog, kembali menyeruak dan memicu perdebatan baru di ruang publik. (lz)
Editor : Laila Zakiya