SOLOBALAPAN.COM, SAMARINDA – Jagat media sosial, khususnya platform X (Twitter), belakangan ini dibuat gaduh dengan beredarnya narasi mengenai video asusila yang diduga melibatkan seorang pengemudi ojek daring (ojol) di Samarinda, Kalimantan Timur.
Dalam narasi yang viral tersebut, disebutkan adanya video berdurasi lima menit yang mencatut nama "Iben" sebagai pemeran utamanya.
Topik ini sempat menjadi perbincangan panas warganet, namun setelah ditelusuri lebih dalam hingga Senin (9/2/2026), informasi tersebut mengarah kuat pada berita bohong alias hoaks.
Polisi Belum Terima Laporan Resmi
Pihak kepolisian setempat pun angkat bicara mengenai kegaduhan ini.
Hingga berita ini diturunkan, Polresta Samarinda menegaskan belum mengeluarkan keterangan resmi yang membenarkan adanya kasus tersebut, sebagaimana narasi liar yang beredar di media sosial.
Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang bertolak belakang dengan rumor:
-
Nihil Laporan: Polisi belum menerima satu pun laporan dari pihak yang merasa dirugikan terkait video tersebut.
-
Rekam Jejak Positif: Komunitas ojol di Samarinda justru tercatat aktif dalam kegiatan positif, seperti menggelar aksi solidaritas seribu lilin dan membantu aparat mengungkap kasus kriminal umum.
Modus Penipuan Digital
Alih-alih video nyata, narasi viral ini diduga kuat merupakan modus operandi baru para pelaku kejahatan siber.
Mereka memanfaatkan rasa penasaran publik terhadap isu sensitif untuk menyebarkan tautan berbahaya (phishing).
Pola penyebaran hoaks ini biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
Menggunakan judul provokatif seperti "Video Viral" atau "Durasi 5 Menit".
-
Menyertakan tautan pendek yang mencurigakan.
-
Mengarahkan pengguna ke situs judi daring atau aplikasi berbahaya.
Ancaman Pencurian Data
Pakar keamanan siber mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengklik tautan yang diklaim sebagai video tersebut.
Risiko yang mengintai di balik tautan itu sangat fatal, mulai dari pencurian akun media sosial hingga pembobolan data perbankan (rekening).
Masyarakat diminta untuk lebih selektif dan cerdas dalam menyaring informasi di ruang digital. Jangan sampai rasa penasaran sesaat justru berujung pada kerugian materiil akibat data pribadi yang dicuri oleh pihak tidak bertanggung jawab. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo