SOLOBALAPAN.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini tengah membidik asal-usul kekayaan mantan Gubernur Jawa Barat periode 2018–2023, Ridwan Kamil (RK).
Lembaga antirasuah tersebut menduga adanya sejumlah aset bernilai fantastis milik RK yang sengaja tidak dicantumkan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa penyidik sedang menelusuri alasan di balik tidak dilaporkannya aset-aset tersebut serta mencari tahu dari mana sumber perolehannya.
Aset Tersebar hingga ke Korea Selatan
Berdasarkan investigasi KPK hingga Sabtu (7/2/2026), ditemukan indikasi kepemilikan aset tidak bergerak milik Ridwan Kamil yang tidak terdaftar di LHKPN.
Aset-aset tersebut mencakup unit usaha berupa kafe yang berlokasi di Bandung, Bali, hingga ke Seoul, Korea Selatan.
"KPK menduga ada sejumlah aset milik Pak RK yang belum dilaporkan. Kami dalami mengapa belum dimasukkan dan dari mana asal-usulnya, baik yang di Jawa Barat maupun wilayah lainnya," ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (7/2/2026).
Kaitan dengan Kasus Korupsi Iklan Bank BJB
Penyidik KPK berencana mencocokkan temuan aset ini dengan kasus dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB yang tengah disidik.
Kasus yang merugikan negara sebesar Rp 222 miliar ini menyeret lima tersangka, termasuk Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi.
KPK ingin memastikan apakah aset-aset "rahasia" milik RK tersebut dibeli menggunakan aliran dana nonbujeter dari Divisi Corporate Secretary Bank BJB.
Sejauh ini, KPK telah menyita satu unit sepeda motor Royal Enfield dan tengah mendalami transaksi pembelian mobil Mercedes Benz milik RK.
Pemeriksaan Intensif
Ridwan Kamil sendiri telah menjalani pemeriksaan pada 2 Desember 2025 lalu.
Fokus pemeriksaan tersebut adalah untuk membedah aliran dana yang berkaitan dengan kepemilikan aset yang tidak dilaporkan.
"Nanti akan dicocokkan seperti menyusun puzzle. Aset ini diperoleh tahun berapa, sumber uangnya dari mana, dan apakah berkaitan dengan perkara di Bank BJB," tegas Budi.
Hingga berita ini diturunkan, KPK terus mengumpulkan bukti kesesuaian antara harta kekayaan RK dengan kasus korupsi iklan yang melibatkan agensi-agensi besar tersebut. (dam)