SOLOBALAPAN.COM, NGADA – Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) bernama Yohanes Bastian Roja (10) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.
Peristiwa tragis ini diduga kuat dipicu oleh kekecewaan mendalam lantaran keinginannya membeli buku dan pena tak terpenuhi karena ketiadaan biaya.
Bupati Ngada, Raymundus Bena, yang menurunkan tim investigasi ke lapangan, mengungkap fakta yang lebih menyayat hati.
Sebelum kejadian, korban ternyata menaruh harapan besar pada pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, namun harapan itu pupus karena masalah administrasi kependudukan.
Baca Juga: Miris! Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Ina Ammania: Alarm Serius Negara!
Dana PIP Ada, Tapi Terganjal Administrasi
Berdasarkan temuan tim Bupati, korban berulang kali menanyakan kepada ibunya kapan uang beasiswa sekolahnya bisa dicairkan.
Sang ibu hanya bisa meminta anaknya bersabar karena adanya kendala birokrasi yang rumit.
Raymundus menjelaskan rincian kendala administrasi yang menghambat pencairan dana tersebut:
-
Masalah Domisili KTP Ibu: Ibu korban masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo secara administrasi (KTP), padahal mereka kini berdomisili di Kabupaten Ngada.
-
Syarat Pencairan: Bank penyalur di kabupaten mewajibkan kesesuaian data administrasi kependudukan untuk pencairan dana.
-
Belum Sempat Mengurus: Sang ibu sempat diminta pulang kampung untuk mengurus pindah penduduk, namun hingga hari kejadian, hal tersebut belum terlaksana.
"Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke bank di kabupaten. Namun, secara administrasi pencairan dana tersebut belum dapat dilakukan," ungkap Raymundus kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Latar Belakang Keluarga yang Memprihatinkan
Selain masalah dana pendidikan, kondisi psikologis korban juga diduga tertekan oleh latar belakang keluarganya.
Yohanes diketahui merupakan seorang anak yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak kecil.
Berikut adalah fakta kondisi keluarga korban yang ditemukan tim di lapangan:
-
Anak Yatim: Ayah kandung korban meninggal dunia saat korban masih kanak-kanak.
-
Diasuh Nenek: Sehari-hari korban tinggal dan dirawat oleh neneknya di rumah kebun, terpisah dari ibunya.
-
Keluarga Terpisah: Ibunya tinggal di kampung berbeda bersama ayah tiri dan saudara-saudara tirinya.
-
Status Kakak: Kakak pertama dan kedua sudah diurus kepindahannya ke Ngada, namun korban (anak bungsu) dan kakak ketiga belum sempat diurus administrasinya.
"Pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis. Pada hari kejadian, dia tidak ke sekolah dan pergi ke kebun neneknya, di mana saat itu neneknya sedang tidak ada," tambah Bupati.
Evaluasi Pemkab: Siapkan PIP Daerah
Merespons kejadian ini, Bupati Raymundus Bena berjanji akan mengambil langkah tegas.
Ia akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait tertib administrasi kependudukan di wilayahnya agar kejadian serupa tidak terulang, bahkan jika harus dilakukan secara door-to-door.
Selain itu, Pemkab Ngada berencana menyiapkan skema bantuan alternatif:
-
PIP Versi Daerah: Menyiapkan beasiswa yang bersumber dari anggaran daerah untuk meng-cover siswa yang terkendala administrasi pusat.
-
Bantuan Seragam: Menyediakan bantuan perlengkapan sekolah secara langsung.
Raymundus dijadwalkan akan hadir langsung dalam acara adat kedukaan di makam korban pada Minggu ini sebagai bentuk belasungkawa dan tanggung jawab pemerintah daerah. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo