SOLOBALAPAN.COM — Jagat digital internasional tengah diguncang oleh kesaksian seorang pria bernama Sasha Riley yang viral di berbagai platform seperti Substack, Threads, dan X.
Sasha atau Sascha Riley melontarkan tuduhan ekstrem terkait jaringan perdagangan dan eksploitasi anak yang dikaitkan dengan mendiang Jeffrey Epstein.
Meski klaim ini memicu reaksi luas, penting untuk dicatat bahwa hingga saat ini seluruh pernyataan tersebut belum terverifikasi secara hukum maupun melalui investigasi independen media arus utama.
Profil Sasha Riley dan Isi Kesaksian
Dilansir dari Times Now News, Rabu (4/2/2026), berdasarkan rekaman audio yang diunggah oleh penulis Substack, Lisa Noelle Voldeng, Sasha Riley digambarkan sebagai seorang veteran perang Irak yang dihormati.
Dalam pengakuannya, Riley mengklaim telah menjadi korban perdagangan anak dan kekerasan ekstrem sejak diadopsi pada tahun 1977.
Antara usia 9 hingga 13 tahun, ia mengaku dieksploitasi dalam jaringan kriminal yang disebut memiliki keterkaitan dengan Jeffrey Epstein. Beberapa poin mengerikan dalam kesaksiannya meliputi:
- Dugaan perdagangan anak di bawah usia 13 tahun, pemerkosaan, hingga penyiksaan.
- Pemaksaan berpartisipasi dalam produksi pornografi anak.
- Klaim adanya pembuatan snuff film atau rekaman pembunuhan nyata terhadap anak-anak.
Nama Tokoh Publik AS yang Terseret
Narasi ini menjadi semakin kontroversial karena menyebutkan sejumlah nama tokoh profil tinggi di Amerika Serikat secara eksplisit.
Nama-nama yang muncul dalam rekaman tersebut antara lain:
- Presiden AS Donald Trump.
- Anggota Kongres Jim Jordan (Ohio) dan Andy Biggs (Arizona).
- Senator Lindsey Graham (South Carolina).
- Hakim Mahkamah Agung Clarence Thomas.
Hingga saat ini, tidak ada satu pun dari nama tersebut yang muncul dalam dakwaan resmi atau dokumen pengadilan terkait pola kejahatan yang disampaikan Riley.
Status Verifikasi dan Reaksi Global
Laporan fact-check menekankan bahwa viralitas rekaman ini lebih didorong oleh distribusi massal di media sosial daripada bukti hukum yang sah.
Penulis Lisa Noelle Voldeng menyatakan telah membagikan salinan rekaman tersebut kepada pihak kepolisian dan sekutu di berbagai negara, namun hal ini belum menggantikan verifikasi hukum yang kredibel.
Fenomena ini memicu debat global mengenai cara mengonsumsi informasi sensitif di era digital.
Sebagian pihak menilai pentingnya mendengarkan suara terduga korban, sementara yang lain memperingatkan risiko penyebaran hoaks dan disinformasi yang dapat merugikan opini publik tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. (dam)
Editor : Damianus Bram