SOLOBALAPAN.COM, JAKARTA – Sosok Khoirul Anam (28) mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Di balik seragam satpam berwarna krem yang dikenakannya saat bertugas di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, tersimpan otak brilian yang produktif melahirkan karya akademis.
Prestasi Anam tak main-main.
Pada Jumat (30/1/2026), ia resmi menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak.
Baca Juga: Mau lolos SNBP 2026? Simak 7 Strategi Jitu Memilih Prodi yang Jarang Diketahui Siswa Kelas XII
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa profesi apa pun tidak menjadi penghalang untuk mengejar pendidikan setinggi langit.
Koleksi Gelar Akademik dan Karya Tulis
Meskipun sehari-hari sibuk menjaga keamanan dan melayani nasabah bank, Anam memiliki rekam jejak pendidikan yang mencengangkan.
Ia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Magister (S2) dan memiliki dua gelar Sarjana (S1).
Berikut adalah riwayat pendidikan dan karya Khoirul Anam yang membanggakan:
-
S1 Manajemen: Universitas Pamulang (Kelas Karyawan sejak 2019).
-
S1 Pendidikan Agama Islam: STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
-
S2 Manajemen: Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
-
Karya Buku: 8 buku ber-ISBN terdaftar di Perpusnas (3 buku lain sedang digarap).
-
Jurnal Ilmiah: 13 karya ilmiah terpublikasi di jurnal nasional dan internasional.
"Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang," ujar Anam saat ditemui, Selasa (3/2/2026).
Tantangan Biaya dan Manajemen Waktu
Perjalanan Anam meraih gelar tersebut bukan tanpa hambatan.
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara pekerjaan yang menuntut fisik prima dengan kebutuhan riset yang membutuhkan fokus tinggi.
"Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian," ungkapnya.
Selain waktu, biaya juga menjadi kendala nyata.
Anam mengakui bahwa mempublikasikan jurnal di tingkat bereputasi tinggi (seperti Sinta 2 atau Scopus) membutuhkan biaya besar yang sering kali sulit dijangkau dengan gajinya sebagai satpam.
Motivasi dari Pengalaman Mati Suri
Semangat baja Anam ternyata dipicu oleh pengalaman hidup yang pahit.
Merantau dari Lampung ke Jakarta pada 2018 hanya dengan modal Rp 1 juta, Anam sempat mengalami sakit parah hingga koma. Momen "hidup kedua" itulah yang mengubah pola pikirnya.
"Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik," kenangnya.
Kini, Anam memiliki impian mulia untuk beralih profesi menjadi tenaga pengajar, baik guru maupun dosen, demi mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi siapa saja untuk tidak berhenti belajar. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo