SOLOBALAPAN.COM - Rilis Epstein Files oleh Kementerian Kehakiman Amerika Serikat kembali memunculkan fakta-fakta baru yang mengaitkan Indonesia dengan jaringan dan aset milik Jeffrey Epstein.
Tak hanya menyeret nama tokoh publik, dokumen terbaru juga memuat invoice pengiriman barang dari Bali yang kini viral di media sosial.
Invoice dari Bali Muncul di Epstein Files
Perhatian publik tertuju pada sebuah invoice pengiriman barang dari Badung, Bali, yang ditemukan dalam arsip resmi kasus Epstein.
Dokumen tersebut berada dalam dataset ke-9 dengan kode EFTA00521318.
Invoice ini mengungkap pembelian barang bernilai puluhan juta rupiah yang dikirim dari Indonesia ke properti Epstein di Amerika Serikat.
Fakta ini pertama kali diungkap melalui cuitan akun X @pisang_holeng pada Minggu, 1 Februari 2026.
"Dalam invoice itu, nama penerima adalah Karyna Shuliak," tulis akun @pisang_holeng.
Pengiriman tersebut disebut memiliki volume mencapai 11,6 kubik, diduga berupa furnitur dan barang seni dari Bali yang dikirim ke St. Thomas, Florida.
Siapa Karyna Shuliak?
Nama Karyna Shuliak bukan sosok asing dalam kasus Epstein.
Ia diketahui sebagai pacar terakhir Epstein sebelum sang finansier ditangkap atas dugaan kejahatan asusila terhadap anak di bawah umur.
Shuliak juga tercatat sebagai penerima warisan terbesar Epstein setelah kematiannya pada 2019.
Fakta ini membuat invoice dari Bali tersebut dinilai penting, karena dalam penyelidikan Epstein Files, setiap jejak barang dan aliran dana dibaca sebagai upaya pelacakan aset.
Kekayaan Epstein dan Warisan Fantastis
Jeffrey Epstein meninggal dunia pada Agustus 2019 setelah 36 hari menjalani masa tahanan.
Sebelum tewas, kekayaannya diperkirakan mencapai 630 juta dolar AS atau sekitar Rp10,5 triliun.
Ia sempat menandatangani dokumen keuangan yang dikenal sebagai The 1953 Trust, dua hari sebelum kematiannya.
Dalam dokumen tersebut, Epstein mewariskan 100 juta dolar AS kepada Karyna Shuliak, termasuk sejumlah properti di Manhattan, Paris, New Mexico, serta dua pulau pribadi di Kepulauan Virgin AS.
Selain itu, ia juga memberikan cincin berlian 32,73 karat yang tidak tercantum dalam dokumen resmi.
Pengacara dan akuntan pribadinya turut menerima puluhan juta dolar dari warisan tersebut.
Nama Hary Tanoe Kembali Disorot
Selain invoice Bali, Epstein Files juga memuat potongan dokumen yang menyebut nama konglomerat media Indonesia Hary Tanoesoedibjo.
Publik dibuat heboh dengan kemunculan frasa “Indonesian CIA” dalam satu paragraf dengan namanya.
"Hary ....(diblok warna hitam)... introduce him/her to the Indonesian CIA ...(diblok warna hitam). Hary ... speak Indonesian," tulis dokumen tersebut.
Karena sebagian kalimat disensor, konteks frasa tersebut memicu beragam spekulasi di media sosial.
Transaksi Properti dengan Donald Trump
Dokumen yang sama juga menyinggung hubungan bisnis antara Hary Tanoesoedibjo dan Donald Trump, khususnya transaksi properti di Beverly Hills.
"Hary bought his Beverly Hills home from Trump at an inflated price (NFI),"
Selain pembelian rumah dengan harga yang disebut tidak wajar, dokumen juga menyebut keterlibatan Hary dalam proyek pengembangan hotel milik Trump.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Hary Tanoesoedibjo maupun MNC Group terkait isi dokumen Epstein Files tersebut.
Di sisi lain, kemunculan invoice dari Bali memperluas spektrum keterkaitan Indonesia dalam penelusuran aset Epstein. (lz)