SOLOBALAPAN.COM – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, mengeluarkan peringatan keras terkait tren penurunan angka pernikahan di Indonesia yang kian signifikan.
Dalam rapat kerja bersama Kementerian Agama (Kemenag), sosok yang akrab disapa Bu Cinta ini mengungkapkan bahwa sejak tahun 2021 hingga 2024, angka pernikahan nasional anjlok sebesar 15,1 persen.
Atalia khawatir jika tren ini tidak segera dimitigasi, Indonesia akan mengikuti jejak negara-negara Asia Timur yang mengalami krisis populasi akibat anak muda yang enggan berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan.
Atalia juga memperingatkan agar Indonesia waspada terhadap pergeseran nilai di kalangan anak muda, di mana tren hubungan seks sebelum nikah mulai dianggap wajar di beberapa negara tetangga, yang berujung pada keengganan untuk membangun institusi pernikahan.
Darurat Pernikahan: Turun 15 Persen Sejak 2021
Atalia Praratya membeberkan data statistik yang menunjukkan penurunan angka pernikahan nasional yang signifikan.
Menurutnya, jika tren ini dibiarkan tanpa intervensi program ketahanan keluarga yang kuat, Indonesia terancam menyusul krisis demografi seperti yang dialami Korea Selatan dan Jepang.
"Secara rata-rata kumulatif dari 2021 sampai 2024, angka pernikahan nasional turun sekitar 15,1 persen. Kita tidak mau seperti Korea Selatan yang turun hingga 40 persen, atau Jepang dan China," tegas Atalia, Rabu (28/1/2026).
Tren Seks Sebelum Nikah di Luar Negeri Jadi Alarm
Penurunan angka pernikahan di sejumlah negara Asia Timur berkorelasi kuat dengan meningkatnya penerimaan terhadap seks bebas.
Atalia menyoroti bagaimana mayoritas mahasiswa di Korea Selatan dan Jepang kini menganggap hubungan seksual sebelum nikah sebagai hal yang lumrah, sehingga urgensi untuk menikah pun memudar.
Atalia meminta Kemenag dan tokoh agama untuk mengoptimalkan pembekalan bagi anak muda tentang pentingnya institusi pernikahan sebagai fondasi masyarakat religius.
Pesan Personal Atalia Praratya
Secara mengejutkan, Atalia juga sempat menyinggung kehidupan pribadinya sebagai refleksi dalam rapat tersebut.
Ia meminta masyarakat untuk tetap optimis membangun rumah tangga yang utuh, terlepas dari ujian yang ia alami sendiri.
"Apa yang terjadi pada saya tentu bukan menjadi contoh (dalam hal ketahanan keluarga), namun penting bagi anak muda kita memiliki pembekalan yang baik," ungkapnya.
Analisis: Mengapa Anak Muda Enggan Menikah?
Meski Atalia menyoroti sisi moral (seks sebelum nikah), kita juga tidak bisa menutup mata pada faktor ekonomi.
Biaya hidup yang tinggi, syarat mahar/resepsi yang mahal, hingga tuntutan karier seringkali membuat anak muda menunda pernikahan.
Tantangan bagi Kemenag saat ini adalah bagaimana mengemas kampanye "Ketahanan Keluarga" agar tidak hanya menyentuh aspek agama, tapi juga memberikan solusi nyata bagi tantangan ekonomi yang dihadapi generasi Z dan Milenial saat ini. (dam)
Editor : Damianus Bram