SOLOBALAPAN.COM – Polres Metro Jakarta Selatan memberikan pernyataan resmi terkait proses evakuasi selebgram Lula Lahfah di apartemennya, Sabtu (24/1/2026).
Menepis rumor yang beredar di media sosial mengenai keterkaitan gas tawa (Nitrous Oxide), polisi menegaskan tidak menemukan barang bukti bermerek 'Whip Pink' di lokasi kejadian.
Hingga saat ini, polisi menegaskan tidak menemukan zat berbahaya tersebut di lokasi kejadian, melainkan sejumlah bukti medis yang menunjukkan riwayat pengobatan sang selebgram.
Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan titik terang bagi publik dan menghormati keluarga yang sedang berduka.
Polisi: Hanya Temukan Obat-obatan dan Surat Rawat Jalan
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Murodih, membantah rumor adanya produk Whip Pink (Nitrous Oxide) di tempat kejadian perkara (TKP).
Dalam proses evakuasi, petugas hanya menemukan dokumen medis dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) yang memperkuat keterangan keluarga mengenai kondisi kesehatan Lula.
"Belum ada ditemukan (produk Whip Pink). Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, namun ditemukan obat-obatan sama surat rawat jalan dari RSPI," ungkap Murodih, dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (24/1/2026).
BNN Endus Bahaya Tren 'Gas Tawa' di Kalangan Anak Muda
Meski tidak ditemukan di lokasi meninggalnya Lula, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI kini dalam posisi siaga satu terkait peredaran Nitrous Oxide (N2O) atau yang populer dengan sebutan 'whip pink' atau 'Nangs'.
Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, mengungkapkan bahwa zat ini sering disalahgunakan untuk mencari efek euforia singkat namun berisiko fatal.
Laporan intelijen BNN menunjukkan pola penggunaan yang mengkhawatirkan: gas ini sering dicampur dengan alkohol (polydrug use).
Kombinasi ini dapat memicu hipoksia (kekurangan oksigen akut di otak) yang berujung pada kejang, kerusakan otak permanen, hingga kematian mendadak.
Dampak Permanen: Kelumpuhan Akibat Defisiensi B12
Penyalahgunaan Whip Pink tidak hanya mengancam nyawa dalam jangka pendek. Penggunaan berulang dapat merusak sumsum tulang belakang dan saraf tepi.
Dampak ekstremnya mencakup mati rasa, kesemutan hebat, hingga kelumpuhan total akibat kekurangan vitamin B12 yang sangat parah.
BNN kini tengah mendorong penyusunan regulasi ketat bersama BPOM dan Kemenkes untuk membatasi peredaran N2O agar tidak bocor ke tangan masyarakat untuk tujuan rekreasi.
Masyarakat, terutama orang tua, diimbau waspada jika menemukan tabung kecil (cartridge) atau balon mencurigakan di lingkungan anak remaja. (dam)
Editor : Damianus Bram