SOLOBALAPAN.COM – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengeluarkan pernyataan keras sekaligus menyentuh terkait kondisi keamanan internasional saat ini.
Melalui tulisan panjang di akun X pribadinya, SBY menyebut bahwa dunia kini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat mirip dengan kondisi menjelang meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
SBY menyoroti kemunculan blok-blok kekuatan militer baru dan retorika agresif para pemimpin dunia yang bisa memicu kiamat nuklir dengan estimasi korban mencapai 5 miliar jiwa.
Analisis Geopolitik: Pola Perang Besar Mulai Terlihat
Sebagai tokoh yang puluhan tahun mendalami sejarah peperangan dan keamanan internasional, SBY mengaku cemas dengan dinamika beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, indikator perang besar sudah mulai bermunculan ke permukaan.
“Situasi dunia menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua memiliki banyak kesamaan dengan kondisi sekarang,” tulis SBY.
Ia menggarisbawahi beberapa faktor pemicu utama, di antaranya :
- Munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang cenderung agresif.
- Terbentuknya blok persekutuan negara yang saling berhadapan.
- Pembangunan kekuatan militer besar-besaran yang dibarengi penyiapan ekonomi perang.
Ancaman Kepunahan: 5 Miliar Nyawa Jadi Taruhan
SBY mengingatkan bahwa perang kali ini tidak akan sama dengan konflik konvensional masa lalu.
Jika senjata nuklir digunakan, dampaknya akan menghapus peradaban manusia. Berdasarkan sejumlah studi, korban jiwa bisa melampaui 5 miliar orang.
Namun, SBY menolak sikap pasrah. Ia menegaskan bahwa doa saja tidak cukup tanpa upaya konkret dari bangsa-bangsa di dunia untuk menyelamatkan peradabannya sendiri.
Desak PBB Gelar Sidang Umum Darurat
Sebagai solusi nyata, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif strategis.
Ia mendorong diadakannya Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) sebagai ruang bagi para pemimpin dunia untuk merumuskan langkah pencegahan krisis global.
“Seruan itu mungkin terdengar seperti berseru di padang pasir. Namun, bisa jadi itulah awal dari tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menyelamatkan dunia,” tegas SBY.
Meskipun PBB sering kali dianggap lemah dalam beberapa tahun terakhir, SBY berharap lembaga internasional ini tidak tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang melakukan pembiaran di tengah ancaman kehancuran umat manusia. (dam)
Editor : Damianus Bram