SOLOBALAPAN.COM - Nama Napan Group mendadak ramai diperbincangkan publik nasional setelah kabar duka wafatnya Rylan Henry Pribadi di Jepang pada awal Januari 2026.
Tragedi yang menimpa remaja 17 tahun itu tak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memicu rasa ingin tahu publik mengenai Napan Group, salah satu konglomerasi besar Indonesia era 1980–1990-an.
Rylan Henry Pribadi diketahui merupakan cucu dari Henry Pribadi, pendiri Napan Group, yang dikenal luas sebagai pengusaha papan atas dengan jejak bisnis lintas sektor.
Kronologi Kecelakaan Ski di Jepang
Insiden tragis yang merenggut nyawa Rylan terjadi pada Rabu, 7 Januari 2026, di kawasan ski Niseko, Kota Kutchan, Hokkaido, Jepang.
Saat itu, Rylan tengah menghabiskan liburan musim dingin dan dilaporkan bermain ski seorang diri di area perbatasan dua resort.
Diduga, kecepatan luncur membuatnya tidak menyadari adanya tali pembatas lintasan.
Leher korban mengenai tali tersebut dengan keras hingga menyebabkan Rylan terjatuh dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Seorang pemain ski lain yang menemukan korban segera melaporkan kejadian itu kepada petugas resort.
Meski telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat, nyawa Rylan tidak dapat diselamatkan.
Hasil autopsi Kepolisian Hokkaido pada 9 Januari 2026 menyebut penyebab kematian adalah asfiksia akibat tekanan di leher, tanpa ditemukan tanda kekerasan lain maupun unsur kriminal.
Otoritas Jepang menegaskan insiden ini merupakan kecelakaan olahraga murni.
Ucapan Duka dari Tokoh Nasional
Kepergian Rylan Henry Pribadi turut mengundang perhatian tokoh nasional dan pelaku dunia usaha Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan belasungkawa melalui akun Instagram pribadinya.
“Saya dan Ibu Yanti @yanti.airlangga menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda Rylan Henry Pribadi, putra dari sahabat kami, keluarga pengusaha nasional, Bapak Reza Pribadi dan cucu Bapak Henry Pribadi,” kata Airlangga dalam unggahan pada akun Instagram pribadinya, dikutip Minggu (18/1/2026).
Ia juga menambahkan doa bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberikan almarhum Rylan tempat terbaik di sisi-Nya, serta menguatkan keluarga yang ditinggalkan dengan ketabahan dan keikhlasan. Aamiin YRA,” lanjutnya.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie juga menyampaikan duka mendalam.
“This is a tough one. Turut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya Rylan Henry Pribadi, putra dari sahabat saya Reza Pribadi @rezpribadi. Rylan juga cucu dari mantan tetangga kami, Pak Henry Pribadi,” ujar Anindya.
Profil Singkat Rylan Henry Pribadi
Rylan Henry Pribadi lahir pada 22 Februari 2008 dan merupakan putra dari Reza Pribadi, generasi kedua Napan Group.
Ia mengenyam pendidikan di Brisbane Grammar School, Australia, serta memiliki status kewarganegaraan ganda Indonesia–Australia.
Di lingkungan terdekat, Rylan dikenal sebagai pribadi cerdas, santun, berprestasi, dan memiliki ketertarikan besar pada aktivitas luar ruangan.
Sebagai generasi ketiga, ia dipandang sebagai salah satu calon penerus yang disiapkan melalui pendidikan internasional dan pengalaman global.
Napan Group Itu Perusahaan Apa?
Napan Group dikenal sebagai salah satu konglomerasi besar Indonesia yang berjaya pada era 1980–1990-an, dengan portofolio bisnis mencakup petrokimia, properti, industri, hingga perdagangan.
Grup ini dirintis oleh Henry Setiawan Pribadi, pengusaha asal Kudus, Jawa Tengah, yang lahir pada 1948 dan juga dikenal dengan nama Liem Oen Hauw.
Cikal bakal Napan Group bermula dari perusahaan bernama PT Nawa Panduta, yang kemudian berganti nama menjadi PT Napan Persada, didirikan pada Maret 1972 bersama dua saudaranya.
Pada masa keemasannya, Napan Group tercatat berada di peringkat ke-39 konglomerasi terbesar Indonesia pada 1991.
Menjelang akhir 1990-an, grup ini membawahi sekitar 36 anak perusahaan dengan pendapatan mencapai Rp 1,165 triliun.
Jejak Bisnis dan Krisis Moneter
Napan Group pernah terlibat dalam berbagai perusahaan strategis, mulai dari petrokimia, kawasan industri, properti, hingga perdagangan kimia.
Namun, krisis moneter Asia 1997–1998 menjadi titik balik besar bagi grup ini.
Napan tercatat sebagai obligor besar BPPN dengan kewajiban mencapai Rp 2,98 triliun, sehingga memaksa perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besaran dan melepas sejumlah aset strategis.
Meski skala bisnis menyusut, kondisi keuangan grup dinilai lebih stabil pasca restrukturisasi. (lz)
Editor : Laila Zakiya