SOLOBALAPAN.COM, KEDIRI - Pepatah "dibalik musibah ada hikmah" tampaknya pas menggambarkan nasib Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.
Sempat viral karena bentuknya yang unik hingga dicibir netizen, patung ini kini justru membawa berkah melimpah bagi warga desa.
Tak hanya mendatangkan wisatawan yang membuat ekonomi warga sekitar berputar, patung ini bahkan ditawar dengan harga fantastis oleh para kolektor seni.
Ditawar Ratusan Juta Rupiah
Kepala Desa Balongjeruk, Safi'i, mengungkapkan fakta mengejutkan.
Popularitas patung Macan Putih ternyata menarik minat kolektor dan seniman dari berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Bali, hingga Mojokerto.
Mereka tidak sekadar datang untuk melihat, namun menyodorkan tawaran pembelian. Angkanya pun tak main-main, mencapai ratusan juta rupiah.
"Nilai penawarannya mencapai nominal ratusan juta rupiah. Ada dari Jogja, Bali, dan Mojokerto," ungkap Safi'i.
Namun, godaan uang ratusan juta itu ditolak mentah-mentah oleh pihak desa. Berdasarkan hasil musyawarah antara Pemerintah Desa Balongjeruk dan warga, mereka sepakat untuk tidak melepas patung tersebut.
Warga memutuskan untuk melestarikan patung Macan Putih sebagai ikon kebanggaan desa.
Viral Hingga ke Luar Negeri
Keputusan warga mempertahankan patung tersebut terbukti tepat.
Kini, patung Macan Putih telah mengangkat nama Desa Balongjeruk hingga ke kancah internasional.
Safi'i menuturkan, kabar mengenai patung ini telah sampai ke telinga warga asing.
Kerabatnya di Malaysia menyebut ikon desa itu telah diberitakan media setempat. Respons positif juga datang dari warga Australia dan Singapura.
"Ini luar biasa. Dari yang sempat dihujat, kini justru membawa manfaat dan mengangkat nama desa," tuturnya bangga.
Dongkrak Ekonomi Warga
Dampak viralnya patung ini juga dirasakan langsung oleh kantong warga.
Banyaknya pengunjung dari luar kota yang penasaran ingin berfoto membuat warga berinisiatif membuka lapak dagangan di sekitar lokasi. Ekonomi kerakyatan pun tumbuh subur di sekitar sang Macan Putih.
Pihak Pemerintah Desa kini tengah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga eksistensi wisata dadakan ini.
Mulai dari senam massal hingga lomba mewarnai dan menggambar akan digelar di lokasi tersebut.
"Semuanya nanti kita bahas dalam rapat dengan masyarakat," pungkas Safi'i. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo