SOLOBALAPAN.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM, memberikan respons terbuka terkait kritik pedas yang dilontarkan komika senior Pandji Pragiwaksono.
Sebelumnya, dalam materi stand-up "Mens Rea", Pandji menyentil gaya kepemimpinan KDM yang dinilai sebagai "Gubernur Konten" atau "Gubernur Youtuber".
Menanggapi hal itu, KDM tidak emosi. Melalui akun Instagram pribadinya, Minggu (4/1), mantan Bupati Purwakarta ini justru menyebut kritik tersebut sebagai vitamin demokrasi.
"Bang Pandji terima kasih ya, saya penggemar Anda loh. Anda ini keren setiap pernyataan-pernyataannya menggelitik, korektif, dan edukatif," buka Dedi Mulyadi dengan santai.
Tepis Mitos Pemimpin Artis
Dalam responsnya, KDM meluruskan pandangan Pandji yang menyebut warga Jawa Barat memiliki kecenderungan memilih pemimpin berlatar belakang artis.
Menurut KDM, fakta politik di lapangan justru berkata lain. Popularitas artis tidak serta-merta menjamin kemenangan.
"Termasuk (anggapan) orang Jawa Barat milih pemimpin yang selalu keartisan. Tetapi sayang sekali Bang Pandji, Pak Deddy Mizwar dan Pak Dede Yusuf waktu nyalon jadi gubernur malah nggak kepilih," ungkap KDM.
Ia mengingatkan momen saat dirinya mendampingi Deddy Mizwar, maupun saat Dede Yusuf maju dengan pasangannya, keduanya gagal dalam kontestasi Pilgub Jabar.
Meski demikian, KDM membela kapasitas rekan-rekannya. Ia mencontohkan Dede Yusuf yang meski berlatar artis, memiliki kinerja moncer sebagai wakil rakyat di Senayan.
"Walaupun dia artis, Pak Dede Yusuf itu punya pemahaman pembangunan yang relatif sangat baik. Sekarang dua kali jadi pimpinan komisi di DPR. Yang artis juga punya kemampuan," tegasnya.
Tantangan Terbuka: Konten atau Kenyataan?
Menjawab label "Gubernur Youtuber", KDM enggan memuji diri sendiri.
Ia memilih menantang Pandji dan publik untuk turun langsung melihat hasil kerjanya.
"Saya nggak boleh muji diri saya. Kemudian keliling ke daerah-daerah di seluruh Provinsi Jawa Barat, saya ngebangunnya bener apa nggak," tantang KDM.
Ia ingin publik menilai berdasarkan bukti fisik pembangunan, bukan sekadar persepsi di media sosial.
"Apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan, ya kita sama-sama lihat bagaimana hasil di lapangan," pungkasnya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo