SOLOBALAPAN.COM - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) bukan hanya mengguncang geopolitik dunia, tetapi juga memicu satu pertanyaan besar: bagaimana operasi militer sekelas Delta Force bisa berjalan begitu cepat dan nyaris tanpa perlawanan?
Keberhasilan Amerika Serikat menerobos jantung ibu kota Caracas, menangkap kepala negara, lalu menerbangkannya ke New York dalam hitungan jam, memunculkan spekulasi serius tentang adanya keretakan di lingkaran kekuasaan Maduro sendiri.
Di media sosial, warganet bahkan membandingkan operasi ini dengan kegagalan Rusia menundukkan Ukraina.
Helikopter Apache dan Blackhawk AS terlihat bebas terbang rendah tanpa ancaman berarti, memicu dugaan adanya “pintu dalam” yang terbuka.
Operasi Terlalu Mulus, Loyalitas Militer Dipertanyakan
Sejumlah laporan media internasional mengindikasikan bahwa faktor kunci keberhasilan AS bukan semata kecanggihan teknologi militer, melainkan melemahnya soliditas angkatan bersenjata Venezuela.
Kantor berita Colombiaone, mengutip New York Times, menyebut adanya retakan serius di tubuh militer Venezuela yang selama ini menjadi tameng utama kekuasaan Maduro.
"Meski Amerika Serikat menjalankan aspek taktis pengambilalihan, berbagai laporan kredibel menunjukkan bahwa cengkeraman Maduro atas militer Venezuela—yang selama ini dikenal solid—telah melemah dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menilai, runtuhnya loyalitas di kalangan faksi-faksi kunci militer yang selama ini menjadi tulang punggung rezim memainkan peran krusial dalam keberhasilan operasi tersebut,"
Dua nama besar disebut-sebut berada di pusaran spekulasi: Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri Venezuela, serta Vladimir Padrino López, kepala angkatan bersenjata yang memiliki pengaruh besar.
Meski keduanya mengecam operasi AS, respons mereka dinilai dingin dan tidak menunjukkan perlawanan nyata.
Ketakutan Militer: Antara Bertahan atau Menyelamatkan Diri
Media Spanyol El Pais mencatat bahwa dalam beberapa pekan terakhir sebelum penangkapan, Maduro justru disibukkan dengan pembersihan internal dan uji loyalitas militer. Namun langkah itu dinilai terlambat.
"Mereka khawatir akan dimintai pertanggungjawaban atas kasus korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia jika rezim Maduro runtuh. Laporan WLRN menyebutkan, para perwira tersebut mulai bersikap ambigu dan enggan memberikan dukungan penuh kepada Maduro pada jam-jam krusial menjelang serangan AS,"
Para analis menilai, negosiasi senyap antara operator Amerika Serikat dan faksi tertentu di militer Venezuela berpotensi melumpuhkan sistem pertahanan dari dalam.
Ketika sebagian pasukan memilih bersikap netral, jalur bagi Delta Force terbuka lebar.
Maduro Disekap, Trump Pamer Kendali
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, langsung diterbangkan ke Amerika Serikat dan kini ditahan di fasilitas penahanan federal paling ketat di New York.
“Maduro has now arrived at Brooklyn's Metropolitan Detention Center, say US media outlets.”
“Maduro was indicted in New York on drugs and weapons charges shortly after he landed at Stewart Air National Guard Base. He has previously denied being the leader of a drug cartel”
Presiden AS Donald Trump kemudian memicu kontroversi global dengan mengunggah foto Maduro dalam kondisi dibutakan di atas kapal perang USS Iwo Jima, sekaligus menegaskan ambisinya mengendalikan Venezuela.
“President Trump says the US is going to "run" Venezuela "until such time as we can do a safe, proper and judicious transition"”
Langkah ini langsung memunculkan kecurigaan bahwa penangkapan Maduro tak sekadar penegakan hukum, melainkan bagian dari kepentingan strategis, terutama minyak Venezuela yang merupakan terbesar di dunia.
Dunia Terbelah, Venezuela Masuk Fase Paling Rawan
Reaksi internasional pun terpolarisasi. Rusia, China, Iran, dan sejumlah negara Amerika Latin mengecam operasi AS sebagai pelanggaran kedaulatan.
Di sisi lain, Argentina dan beberapa negara lain menyebutnya sebagai runtuhnya rezim otoriter.
Di dalam negeri Venezuela, Mahkamah Agung menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara.
“assume and exercise, as acting president, all the powers, duties, and faculties inherent to the office of president of the Bolivarian Republic of Venezuela, in order to guarantee administrative continuity and the comprehensive defense of the nation,”
Sementara sebagian warga merayakan kejatuhan Maduro, pendukungnya turun ke jalan menuduh AS melakukan penculikan presiden sah.
“taking Maduro out of here”
Kini Venezuela berdiri di persimpangan paling berbahaya dalam sejarah modernnya. Apakah penangkapan Maduro menjadi awal transisi demokrasi, atau justru membuka babak baru konflik internal akibat pengkhianatan yang belum sepenuhnya terungkap? (lz)
Editor : Laila Zakiya