Benarkah Isu Bali Sepi Saat Nataru? Disebut Turis Pindah ke Thailand, Gubernur Wayan Koster Bilang Begini
Didi Agung Eko Purnomo• Senin, 22 Desember 2025 | 23:48 WIB
GWK Bali.
SOLOBALAPAN.COM, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, menepis keras rumor yang menyebutkan pariwisata Pulau Dewata sedang lesu menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Dalam Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (22/12/2025), Koster menegaskan bahwa narasi "Bali Sepi" adalah kebohongan yang tidak berdasar data.
“Bohong, saya punya data. Setiap hari totalnya (kedatangan wisatawan) meningkat,” tegas Koster.
Data Fakta: Tembus 6,7 Juta Wisatawan
Koster memaparkan statistik yang menunjukkan tren positif. Rata-rata kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) saat ini mencapai 17.000 orang per hari.
Secara akumulatif, periode Januari hingga 16 Desember 2025 mencatat total 6,7 juta wisman telah masuk ke Bali.
Dengan sisa dua minggu sebelum pergantian tahun, Koster optimistis target 7 juta wisatawan akan tercapai.
Angka ini dikuatkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Bali, I Wayan Sumarajaya.
Ia mencatat lonjakan lebih tinggi sejak 14 Desember, di mana wisman yang masuk menembus 20.000 orang per hari, diikuti kenaikan wisatawan domestik sejak 19 Desember.
Fenomena 'Wisatawan Hantu' dan Akomodasi Ilegal
Jika data menunjukkan kenaikan, mengapa Bali terasa sepi dan okupansi hotel tidak meledak? Koster memiliki analisis tajam: Pergeseran tren akomodasi.
Ia menuding maraknya penggunaan penginapan non-hotel seperti Airbnb dan rumah kos yang dialihfungsikan menjadi penginapan turis sebagai penyebab distorsi data.
Wisatawan banyak yang menginap di tempat-tempat tak berizin dan tak bayar pajak ini, sehingga keramaian tidak terekam di tingkat hunian hotel resmi.
“Saya cek hotel terendah 60 persen, The Meru 80 persen, yang berbintang di Nusa Dua itu 80 persen. Sebenarnya bisa lebih tinggi dari itu,” ungkapnya.
Untuk mengatasi ini, Koster mengaku telah menerima surat dari Kementerian Investasi untuk segera menyusun Peraturan Gubernur (Pergub) guna menertibkan Airbnb.
Faktor Cuaca: Hujan Bikin Turis 'Mager'
Selain masalah akomodasi, Koster dan Sumarajaya sepakat bahwa faktor cuaca ekstrem turut memengaruhi persepsi "sepi".
Musim hujan dan banjir di beberapa titik membuat wisatawan lebih memilih berdiam diri di penginapan (staycation) daripada berkeliling ke destinasi wisata, sehingga jalanan dan objek wisata terlihat lebih lengang dari biasanya.
Dinas Pariwisata Bali kini fokus berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan di tengah cuaca yang tak menentu ini. (did)