Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Apa Itu Siklon Tropis Bakung yang Ancam Sejumlah Wilayah di Indonesia? Wajib Waspada, Begini Cara Persiapkan Diri Hadapi Kemungkinan Terburuk!

Laila Zakiya • Minggu, 21 Desember 2025 | 17:40 WIB

 

Ilustrasi cuaca - Apa itu bibit siklon tropis?
Ilustrasi cuaca - Apa itu bibit siklon tropis?

SOLOBALAPAN.COM - Indonesia kembali berada dalam fase kewaspadaan cuaca ekstrem seiring kemunculan Siklon Tropis Bakung dan Bibit Siklon Tropis 93S yang terpantau aktif di sekitar perairan selatan Tanah Air.

Meski pusat siklon bergerak menjauhi wilayah Indonesia, dampak tidak langsungnya masih berpotensi signifikan dan tidak bisa dianggap sepele.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kedua sistem atmosfer tersebut dapat memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Apa Itu Siklon Tropis Bakung?

BMKG menjelaskan bahwa siklon tropis merupakan badai besar yang terbentuk di atas perairan hangat dengan suhu minimal 26,5 derajat Celsius, disertai angin berputar kuat dengan kecepatan lebih dari 63 kilometer per jam dan radius ratusan kilometer.

Siklon Tropis Bakung tercatat berkembang dari Bibit Siklon Tropis 91S yang mulai terpantau sejak 12 Desember 2025.

Pada malam 15 Desember 2025, pusat siklon berada di Samudra Hindia barat daya Lampung.

BMKG menyebut Siklon Tropis Bakung sempat mencapai kategori 2 dengan kecepatan angin maksimum 50 knot atau sekitar 95 km/jam dan tekanan udara minimum 988 hPa, sebelum diprediksi melemah dalam 24 jam berikutnya.

Dampak Tidak Langsung yang Perlu Diwaspadai

Meski bergerak menjauhi Indonesia, BMKG mengingatkan bahwa Siklon Tropis Bakung tetap memicu gangguan cuaca.

“Dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca ekstrem dan perairan di wilayah Indonesia dalam 24 jam hingga 16 Desember 2025 pukul 07.00 WIB,” tulis akun Instagram @infobmkg pada Senin (15/12/2025).

Wilayah yang berpotensi mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat antara lain:

* Lampung
* Bengkulu

Sementara angin kencang diprakirakan terjadi di Bengkulu, dengan gelombang laut setinggi 1,25–2,5 meter di Samudra Hindia barat Kepulauan Nias hingga Lampung serta Selat Sunda bagian selatan.

Bibit Siklon Tropis 93S: Ancaman Laten dari Selatan Jawa

Selain Bakung, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 93S yang mulai terbentuk sejak 11 Desember 2025 di Samudra Hindia selatan Jawa Timur.

Sistem ini dinilai memiliki peluang sedang hingga tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam periode tertentu, meski pada fase awal peluangnya sempat dinilai rendah.

Bibit 93S berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di:

* Banten
* Jawa Barat
* Jawa Tengah
* DI Yogyakarta
* Jawa Timur
* Bali
* Nusa Tenggara Barat

Angin kencang diprakirakan terjadi di wilayah Jawa Timur dan Bali, disertai gelombang tinggi di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Dampak Nyata: Banjir hingga Gangguan Aktivitas Warga

Dampak bibit siklon 93S telah dirasakan langsung di lapangan. Di Bali, hujan lebat memicu banjir di kawasan permukiman dan pusat pariwisata.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyatakan:

“Bali mengalami hujan lebat. Garis angin kencang digambarkan di atas Laut Bali, dekat utara Bali,” ujar Erma.

Sementara itu, Gubernur NTT Melki Lakalena mengingatkan warganya untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.

“Kewaspadaan ditingkatkan apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru agar terlindungi dari ancaman bencana hidrometeorologi,” kata Melki Lakalena.

Mengapa Indonesia Perlu Lebih Waspada?

Secara geografis, Indonesia berada di wilayah lintang rendah sehingga jarang dilalui siklon tropis secara langsung.

Namun, perubahan iklim membuat kemunculan bibit siklon di sekitar Indonesia menjadi lebih sering.

Erma Yulihastin menegaskan:

“Sejak Seroja pada 2021, Indonesia tidak bebas dari badai tropis. Walau tahun-tahun sebelumnya, badai tropis juga sudah muncul di Indonesia. Apa penyebab utamanya? Ya ulah manusia.”

Ia juga menekankan bahwa badai tropis memiliki efek persistensi hujan yang bisa berlangsung sejak fase awal pembentukan hingga sistem melemah.

“Badai tropis memberikan efek pada persistensi hujan sejak dari tahapan prakondisi hingga meluruh dan terurai. Itulah mengapa kewaspadaan dibutuhkan sejak prakondisi,” ujar Erma.

Cara Persiapkan Diri Hadapi Kemungkinan Terburuk

Menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Bakung dan bibit siklon lainnya, BMKG mengimbau masyarakat untuk:

* Selalu waspada dan mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap aman
* Terus memantau informasi resmi dari BMKG melalui aplikasi InfoBMKG dan akun @infoBMKG
* Tidak mudah mempercayai informasi cuaca dari sumber yang tidak resmi

Mitigasi sejak dini menjadi kunci utama untuk menekan risiko korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

 

Siklon Tropis Bakung mungkin tidak menghantam Indonesia secara langsung, namun dampak tidak langsungnya nyata dan berisiko tinggi.

Ditambah dengan keberadaan Bibit Siklon Tropis 93S dan 95S, kondisi atmosfer Indonesia dalam beberapa hari ke depan menuntut kewaspadaan kolektif dari masyarakat dan pemerintah daerah.

Pemahaman yang baik tentang fenomena ini dan kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi langkah penting agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#cuaca ekstrem #Bibit Siklon 93S #Siklon Tropis Bakung