SOLOBALAPAN.COM - Jagat media sosial kembali dibuat mendidih oleh ulah tak terpuji seorang pria yang diduga berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
Pria bernama Sarmoli Nikdolias Patinggi kini menjadi bulan-bulanan warganet setelah videonya saat melakukan siaran langsung (live streaming) viral.
Dalam video tersebut, Sarmoli terekam melakukan tindakan bullying atau perundungan verbal terhadap Cahyo, seorang pria penyandang disabilitas (tuna wicara).
Tertawa Menirukan Suara Korban
Awalnya, interaksi dalam siaran langsung tersebut tampak seperti percakapan biasa.
Namun, suasana berubah menjadi tidak nyaman ketika Sarmoli mulai menirukan cara bicara Cahyo yang memiliki keterbatasan wicara.
Sambil tertawa, Sarmoli melontarkan candaan dengan nada sengau, seolah mengejek kondisi fisik lawan bicaranya.
Tindakan yang mungkin dianggap "lelucon" oleh pelaku ini justru dinilai publik sebagai bentuk penghinaan yang kejam.
Netizen menilai gestur tubuh dan respon Sarmoli sangat merendahkan martabat Cahyo sebagai manusia.
Profil Sarmoli: Diduga Guru SD dan ASN
Kemarahan publik semakin memuncak setelah identitas Sarmoli mulai terkuak.
Berdasarkan penelusuran warganet (cyber sleuth), Sarmoli Nikdolias Patinggi diduga kuat adalah seorang Guru Sekolah Dasar (SD).
Berikut fakta-fakta singkat mengenai sosok Sarmoli yang beredar:
-
Usia: Sekitar 56 tahun.
-
Domisili: Bahontula.
-
Pekerjaan: Jejak digital menunjukkan ia pernah menghadiri Rapat Koordinasi Kampanye Sekolah Sehat dan Transisi PAUD-SD, memperkuat dugaan statusnya sebagai pendidik.
-
Media Sosial: Akun TikTok miliknya bernama @nikdolias. Namun, akun tersebut terpantau tidak aktif membagikan konten baru sejak 4 Agustus 2024, meski kini kolom komentarnya dibanjiri hujatan.
Publik Tuntut Sanksi Tegas
Kasus ini memicu diskusi panas mengenai etika bermedia sosial, terutama bagi seorang ASN dan pendidik yang seharusnya menjadi teladan.
"Seorang guru harusnya mengajarkan empati, bukan malah mem-bully kaum rentan demi konten," tulis salah satu warganet yang geram.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada video klarifikasi atau permintaan maaf resmi dari Sarmoli.
Publik mendesak dinas pendidikan atau instansi terkait untuk segera turun tangan dan memberikan sanksi jika terbukti pelaku adalah seorang ASN aktif. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo