SOLOBALAPAN.COM - Aksi wisata yang mempertontonkan gajah sebagai “kanvas hidup” di Mason Elephant Park and Lodge, Bali, mendadak viral dan memantik kemarahan publik.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat para pengunjung bebas melukis tubuh gajah secara langsung—aktivitas yang diklaim pengelola menggunakan cat organik dan mudah dicuci.
Namun alih-alih dipuji, atraksi ini justru menuai gelombang kecaman dari aktivis, publik figur, hingga pemerhati kesejahteraan satwa.
Nama Sherina Munaf, Melanie Subono, dan Miss Earth 2019 Lirabica menjadi deretan figur yang paling vokal menyuarakan penolakan.
Sherina Munaf Murka: Gajah Bukan Media Hiburan
Artis sekaligus aktivis lingkungan Sherina Munaf secara terbuka meluapkan amarahnya lewat Instagram Story.
Ia membagikan ulang unggahan kritik terkait gajah yang dicoret-coret di Mason Elephant Park and Lodge Bali.
“What the hell is this. Absolute nonsense,” kata Sherina Munaf, dikutip Jumat (12/12/2025).
Unggahan yang dibagikan Sherina berasal dari akun @anakgajjah_ yang mempertanyakan keamanan dan etika melukis tubuh gajah, meskipun diklaim menggunakan cat kapur organik.
“Serius emang boleh gajah dilukis gini meskipun katanya pakai cat kapur organik? Kasihan lihatnya,” kata akun @anakgajjah_.
“Tolong jawab bagi yang paham, mungkin postingan ini lewat di beranda dokter hewan atau siapa pun yang paham, tolong jelaskan bahaya atau tidak badan gajah dilukis begitu,” tambah akun tersebut.
Tak berhenti di situ, Sherina juga mengajak publik menandatangani petisi internasional untuk menghentikan segala bentuk eksploitasi gajah di lokasi wisata.
“Tandatangani petisi hari ini. Serukan Mason Elephant Park and Lodge untuk mengakhiri penangkaran gajah dan interaksi kejam demi hiburan wisata selamanya.”
Klarifikasi Pihak Pengelola: Klaim Cat Organik
Di tengah kecaman yang membanjir, pihak Mason Elephant Park and Lodge memberikan klarifikasi melalui unggahan berbahasa Inggris.
Mereka menegaskan aktivitas tersebut merupakan bagian dari program wisata dan cat yang digunakan aman.
“It was quite a successful day at the park. Thanks for your participation yesterday. Big thanks to gilpetersil and robertianbonnick for organizing this special event. Anyway the paint that we use is organic chalk paint and it’s very washable #elephant.”
Artinya, “Hari ini cukup sukses di taman. Terima kasih atas partisipasi kalian kemarin. Terima kasih banyak kepada gilpetersil dan robertianbonnick yang telah menyelenggarakan acara spesial ini. Ngomong-ngomong, cat yang kami gunakan adalah cat kapur organik dan sangat mudah dicuci #gajah.”
Meski demikian, klarifikasi tersebut tidak meredam kritik. Sebaliknya, publik menilai klaim “organik” tidak otomatis menjamin kesejahteraan satwa.
Melanie Subono: Lukis Gajah Sama Tak Masuk Akal
Aktivis sosial Melanie Subono juga ikut angkat suara.
Ia menyoroti praktik gajah tunggang dan aksi melukis tubuh gajah yang dianggap mengabaikan kesehatan fisik dan mental satwa.
Melanie bahkan mengingatkan keberhasilannya menghentikan praktik gajah tunggang di Borobudur pada 2019, sembari mengkritik beban yang harus ditanggung gajah setiap hari.
“Yes: 2 orang, kali berapa sehari, kali setahun. Paham ampe situ?” tulis Melanie menyindir perhitungan beban harian gajah tersebut.
Ia juga mengkritik keras logika pembenaran penggunaan cat yang “tidak beracun”.
“Menggambar gajah ini Lucu?' tapi kan ga beracun kok' Good .... ambil ANAK MU dan LUKIS MUKA dia tiap hari .... muka anak dilukis juga lucu lok, kan ga beracun,” kutip Melanie.
Tak hanya itu, Melanie mendesak Kementerian Kehutanan dan BKSDA Bali turun tangan menilai apakah praktik tersebut sesuai standar kesejahteraan hewan.
“Yakin bu, ini memenuhi tata KESEJAHTERAAN HEWAN (Animal Welfare)?”
Miss Earth 2019: Ini Bentuk Animal Abuse
Kecaman juga datang dari Miss Earth 2019, Lirabica. Ia secara tegas menyebut aktivitas corat-coret tubuh gajah sebagai bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap hewan.
“Itu tindakan eksploitasi hewan dan 'animal abuse',” tegasnya dalam keterangan resmi, Minggu (14/12/2025).
Lirabica menilai hewan tidak sepatutnya dipaksa bekerja demi hiburan, apalagi dengan perlakuan yang berpotensi menyakiti.
“Seperti, gajah-gajah yang dipaksa dengan menggunakan kait tajam untuk mengangkut wisatawan demi hiburan semata,” terangnya.
Ia juga meminta Kementerian Pariwisata melakukan audit ketat terhadap praktik wisata berbasis satwa.
“Indonesia adalah bangsa yang berempati dan beragama. Presiden kita adalah sosok yang sangat mulia, seorang pencinta hewan, jadi jangan ada yang coba-coba berbuat kejahatan terhadap hewan,” ungkap Lirabica.
“Saya bersama seluruh pencinta hewan di Indonesia tidak akan tinggal diam jika ada kezaliman terhadap hewan,” tambahnya.
Kasus viral gajah dilukis di Mason Elephant Park Bali kini menjadi ujian serius bagi citra pariwisata ramah satwa di Indonesia.
Meski dikemas sebagai atraksi edukatif dan artistik, banyak pihak menilai praktik tersebut justru memperlihatkan normalisasi eksploitasi hewan demi konten dan hiburan. (lz)
Editor : Laila Zakiya