SOLOBALAPAN.COM - Hingga pukul 10.27 WIB hari ini (3/12/2025), jumlah korban meninggal dunia pasca-bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara (Sumut) telah menyentuh angka tragis 301 jiwa.
Di tengah duka ini, kembali mencuat isu panas di media sosial yang mengaitkan aktivitas PT Toba Pulp Lestari (TPL) sebagai salah satu penyebab bencana dahsyat tersebut.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut ikut buka suara.
Berdasarkan kajian awal yang dilakukan, organisasi tersebut menyebut aktivitas PT Toba Pulp Lestari memang turut berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem yang krusial.
Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, menjelaskan bahwa bencana tersebut paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru.
Wilayah ini mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
"Bencana tersebut paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru," tutur Rianda Purba dalam keterangannya kepada awak media, dikutip dari JawaPos.com, Rabu (3/12/2025).
Dampak Dahsyat 7 Perusahaan dan Kerusakan DAS Batang Toru
Dampak kerusakan di Sumut sudah bertambah signifikan, dengan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah menjadi wilayah paling parah terdampak.
Beberapa daerah bahkan sempat terputus total dari akses darat akibat jalan penghubung dihantam longsor dan banjir bandang.
Menurut WALHI Sumut, aktivitas tujuh perusahaan diduga menyebabkan bencana alam di Sumut berdampak sangat dahsyat.
Termasuk di antaranya aktivitas Toba Pulp Lestari yang bergerak di bidang industri bubur kayu (pulp).
WALHI mencatat ada ratusan sampai ribuan hektare hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru yang kini berubah fungsi.
Padahal, Ekosistem Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumut.
Secara administratif, ekosistem ini sebagian besar (66,7 persen) berada di Tapanuli Utara.
"Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan tersebut menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai menuju wilayah hilir," jelas Rianda Purba. (dam)
Editor : Damianus Bram