Sentil Cak Imin Soal Ajakan Tobat Nasuha ke Bahlil dan Raja Juli, Golkar: Kerusakan Hutan Itu Masalah 20 Tahun Lalu
Didi Agung Eko Purnomo• Rabu, 3 Desember 2025 | 04:42 WIB
Cak Imin beri sorotan ke kasus panti asuhan Tangerang di Hari Santri.
SOLOBALAPAN.COM – Penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera kini diwarnai polemik silang pendapat antar-pejabat di Kabinet Merah Putih.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menuai sorotan tajam setelah mengajak rekan-rekan menterinya untuk melakukan "Tobat Nasuha".
Pernyataan Cak Imin ini langsung direspons keras oleh politisi senior Partai Golkar, Firman Soebagyo.
Ia menilai ucapan tersebut tidak tepat disampaikan di tengah suasana duka yang menyelimuti rakyat Sumatera.
Polemik bermula saat Cak Imin berbicara dalam sebuah workshop di Bandung, Senin (1/12/2025).
Ia mengaku telah mengirim surat kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol.
Surat tersebut berisi ajakan evaluasi total atas kebijakan lingkungan yang dinilai menjadi biang kerok bencana.
"Sebagai wujud komitmen dan kesungguhan kita sebagai pemerintah. Bahasa NU-nya, Tobat Nasuha. Itu kuncinya," ujar Cak Imin.
Ia menyebut bencana ini adalah akibat kelalaian manusia, bukan sekadar takdir alam. "Kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri," tambahnya.
Golkar: 'Kerusakan Hutan Bukan Salah Menteri Baru'
Menanggapi ajakan tersebut, Firman Soebagyo dari Golkar menyayangkan narasi yang dibangun Cak Imin.
Menurutnya, meskipun mungkin dimaksudkan sebagai candaan atau metafora, istilah tersebut tidak pas diucapkan di depan media saat korban masih berjatuhan.
"Walaupun mungkin ucapan tobat nasuha tersebut mungkin candaan, namun tidak tepat diucapkan di depan publik dan media dalam suasana duka," kritik Firman, Selasa (2/12/2025).
Anggota Komisi IV DPR ini mengingatkan bahwa kerusakan hutan di Sumatera adalah akumulasi masalah menahun, bukan kesalahan menteri yang baru menjabat seumur jagung.
"Sebagai seorang Menko, Cak Imin (harusnya) memahami tentang kerusakan hutan bukan terjadi sebulan dua bulan... tetapi kerusakan hutan ini sudah sejak 15-20 tahun lalu akibat kebijakan menteri-menteri sebelumnya," tegas Firman.
Minta Fokus Bantu Presiden, Bukan Saling Menyalahkan
Firman menyarankan agar sesama menteri di Kabinet Merah Putih lebih solid dan fokus pada aksi nyata membantu Presiden Prabowo Subianto menangani dampak bencana, ketimbang melempar narasi yang memicu kegaduhan.
"Saran saya, lebih konsentrasi membantu Presiden Prabowo menyelesaikan masalah korban bencana daripada saling menyalahkan," pungkasnya.
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diketahui telah menelan ratusan korban jiwa dan melumpuhkan infrastruktur di berbagai wilayah. (did)