SOLOBALAPAN.COM - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel).
Permintaan maaf ini disampaikan setelah Suharyanto mengaku kaget dan tidak mengira dampak bencana banjir dan longsor di salah satu daerah di Sumatera Utara (Sumut) itu sangat dahsyat.
Sebelumnya, Suharyanto sempat melontarkan pernyataan yang bernada meremehkan, menyebut bencana di tiga provinsi Sumatera terlihat mencekam karena banyak berseliweran di media sosial, bukan karena kondisi riil.
Keterkejutan Suharyanto di Desa Aek Garoga
Permintaan maaf tersebut disampaikan oleh Suharyanto saat dirinya datang langsung ke Desa Aek Garoga, Batang Toru, Tapanuli Selatan, pada Minggu (30/11/2025).
Suharyanto harus melewati dua desa terdampak lainnya sebelum tiba di Desa Aek Garoga. Kerusakan di desa inilah yang paling parah dan disaksikan langsung oleh jenderal bintang tiga TNI AD tersebut.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan kerusakan akibat banjir dan longsor di sana sangat luar biasa.
"Tapsel (Tapanuli Selatan) saya surprise (terkejut), saya tidak mengira seperti ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Ini, bukan berarti kami tidak peduli begitu. Kami hadir di Tapanuli ini, untuk membantu. Tidak ada bedanya utara, selatan, tengah. Itu sama semua bagi kami, tidak melihat suku, agama, ras. Sama bagi kami. Jadi kami turun dengan kekuatan penuh," kata Suharyanto sebagaimana dikutip dari pemberitaan Riau Pos (Jawa Pos Group), Senin (1/12/2025).
Perbaikan Komentar Awal dan Data Korban Sumut
Komentar awal Suharyanto yang memicu polemik adalah ketika ia menilai bencana di tiga provinsi di Pulau Sumatera terlihat mencekam karena banyak berseliweran di media sosial (medsos), bukan karena tingkat kerusakan riil.
"Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial, tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah, tetapi wilayah lain relatif membaik," ujarnya sebelum kunjungannya ke Tapsel.
Berdasarkan data pada Minggu malam (30/11/2025), korban meninggal dunia di Sumut sudah mencapai angka 217 jiwa dan 209 masih hilang, tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan kabupaten/kota lainnya.
Saat ini, tercatat ribuan pengungsi di berbagai lokasi, termasuk 4.661 pengungsi di Tapanuli Selatan. (dam)
Editor : Damianus Bram