SOLOBALAPAN.COM - Bencana hidrometeorologi yang menghantam tiga provinsi sekaligus Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025, menyisakan duka mendalam dan kerusakan masif.
Puluhan nyawa melayang dan ribuan warga harus mengungsi.
Para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap fakta mengejutkan di balik bencana ini.
Banjir bandang dan longsor tersebut bukan semata-mata "takdir" alam, melainkan hasil kombinasi mematikan antara cuaca ekstrem yang tidak biasa dan kerusakan lingkungan yang parah.
Curah Hujan Ekstrem: Tembus 300mm Sehari
Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa Sumatera bagian utara sedang berada di puncak musim hujan.
Namun, intensitas hujan kali ini berada di luar kebiasaan.
Beberapa stasiun BMKG mencatat curah hujan mencapai lebih dari 300 milimeter dalam satu hari.
“Angka itu mendekati curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar Jakarta pada 2020,” ungkap Rais, Jumat (28/11/2025).
Kondisi ini diperburuk oleh fenomena atmosfer berupa pusaran angin (vortex) dari Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi bibit siklon di Selat Malaka.
Fenomena ini meningkatkan suplai uap air secara drastis dan membentuk awan hujan raksasa di atas langit Sumatera.
Tanah Tak Lagi Mampu Menyerap Air
Hujan deras hanyalah pemicu. Faktor yang membuat dampaknya begitu destruktif adalah kondisi permukaan tanah yang sudah rusak.
Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa banjir adalah soal bagaimana bumi mengelola air.
"Ketika kawasan penahan air alami hilang... Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," jelas Heri.
Alih fungsi lahan hutan menjadi permukiman dan perkebunan intensif membuat tanah kehilangan kemampuan infiltrasi (menyerap air).
Akibatnya, air hujan langsung menjadi limpasan liar yang menghanyutkan apa saja yang dilaluinya.
Walhi Tuding Tambang dan Penebangan Liar
Senada dengan pakar ITB, kelompok advokasi lingkungan Walhi memberikan sorotan lebih tajam.
Mereka meyakini bencana ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia yang merusak alam.
Walhi secara spesifik menuding penebangan kayu yang masif dan aktivitas pertambangan emas (yang dioperasikan PT Agincourt Resources) turut berkontribusi memperparah kondisi hutan, sehingga memicu banjir dan longsor yang dahsyat.
Update Korban Jiwa di Banjir Aceh, Sumut, SUmbar
Berdasarkan data BNPB per 28 November, dampak bencana ini sangat memilukan:
-
174 orang meninggal dunia.
-
79 orang dinyatakan hilang.
-
Ribuan warga mengungsi.
Angka ini dikhawatirkan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berjalan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo