SOLOBALAPAN.COM - Peristiwa tragis mengguncang dunia kesehatan Indonesia. Seorang perempuan bernama Irene Sokoy, ibu hamil asal Kabupaten Jayapura, Papua, meregang nyawa bersama bayi dalam kandungannya setelah ditolak oleh empat rumah sakit berbeda.
Irene dan keluarga harus melalui perjalanan berliku dan penuh penolakan, hanya untuk mendapatkan tindakan medis.
Peristiwa pilu ini menyoroti buruknya penanganan darurat kesehatan di wilayah tersebut.
Kronologi Maut Irene Sokoy: Ditolak 4 Rumah Sakit Berturut-turut
Baca Juga: Haru! Fahmi Bo Nikahi Lagi Mantan Istri, Mahar Emas Hasil Live TikTok
Irene Sokoy, warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, mulai mengalami kontraksi sedang dan meminta keluarga membawanya ke rumah sakit pada Rabu (19/11/2025).
Tragisnya, Irene kehilangan nyawa bersama bayinya dalam perjalanan menuju rumah sakit terakhir.
Berikut adalah kronologi berliku penolakan medis Irene Sokoy, dikutip dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group):
1. RS Yowari (Dokter Tak Ada di Tempat)
Baca Juga: RIP Ronny Pasla! Legenda Kiper Timnas Indonesia Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun
Irene dibawa menyeberang menggunakan speedboat ke Rumah Sakit Yowari. Namun, dokter yang menangani pasien hamil ternyata sedang berada di luar Papua.
Ketuban Irene sudah pecah di sini, dan pihak rumah sakit meminta keluarga menunggu berjam-jam sambil berkonsultasi dengan dokter. Kondisi Irene semakin kritis.
2. RS Dian Harapan (Klaim Full Pasien)
Keluarga merujuk Irene ke Rumah Sakit Dian Harapan. Di sini terjadi perdebatan alot karena rumah sakit mengklaim penuh pasien.
”Setelah berdialog dengan dokter di ruang IGD, dokter kembali menyampaikan bahwa, Rumah Sakit Dian Harapan belum bisa menerima pasien, karena full pasien,” kata Fredy Sokoy sebagai perwakilan keluarga Irene.
Saat itu, Irene sudah mulai mengeluarkan bercak darah dari serviks dan mengalami gangguan pernapasan.
Perdebatan yang ramai membuat keluarga akhirnya memutuskan menuju RSUD Abepura.
3. RSUD Abepura (Kamar Operasi Rusak)
Tiba di RSUD Abepura sekitar pukul 13.14 WIT, Irene tidak langsung ditangani. Pihak rumah sakit beralasan kamar operasi belum bisa berfungsi dan masih dalam masa perbaikan.
Keluarga sempat mendesak lantaran kondisi pasien sudah semakin parah.
Mereka berteriak minta tolong sambil menangis. Namun demikian, tindakan tidak kunjung ada tindakan.
”Info yang saya terima sementara bahwa pasien itu datang bawa rujukan untuk operasi karena gawat janin tapi oleh petugas Ponek atau IGD menjelaskan bila kamar operasi belum berfungsi dan masih dalam masa perbaikan,” kilah Wakil Direktur RSUD Abepura, Petrus Benyamin Pepuho.
4. RS Bhayangkara (Diminta DP Mahal untuk Ruang VIP)
Pihak keluarga membawa Irene ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana, pihak rumah sakit hanya menyediakan ruang VIP karena ruang ekonomi sudah penuh. Pihak rumah sakit meminta DP sebesar Rp 4 juta dari total biaya Rp 8 juta.
Keluarga akhirnya memutuskan membawa pasien ke RSUD Dok II, namun hanya selang tiga menit setelah meninggalkan Rumah Sakit Bhayangkara, Irene meninggal dunia setelah mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.
Pihak Rumah Sakit Bhayangkara yang didatangi kembali mengonfirmasi kematian tersebut.
Keluarga Sesalkan Tindakan Rumah Sakit
Fredy Sokoy, perwakilan keluarga, menyampaikan kekecewaan mendalam atas serangkaian penolakan dan penundaan tindakan medis tersebut.
”Keluarga tidak menerima cara kerja dari Rumah Sakit Yowari yang mana dokternya tidak kunjung tiba ternyata di luar Jayapura, kekesalan terhadapan Rumah Sakit Dian Harapan dan Rumah Sakit Abepura serta Rumah Sakit Bhayangkara yang sangat tidak menempatkan keselamatan pasien di atas segalanya,” sesal Freddy.
Tragedi Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya ini menjadi pukulan telak bagi dunia kesehatan Indonesia dan menuntut adanya evaluasi serius terhadap standar pelayanan darurat di rumah sakit daerah. (dam)
Editor : Damianus Bram