Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Benang Kusut Kematian Dosen Untag Semarang: 4 Kebohongan AKBP Basuki yang Kini Terungkap

Laila Zakiya • Senin, 24 November 2025 | 16:24 WIB
Jenazah Dosen Untag Semarang dievakuasi dari kamar hotel.
Jenazah Dosen Untag Semarang dievakuasi dari kamar hotel.

SOLOBALAPAN.COM - Dalam setiap kasus besar, selalu ada satu titik yang akhirnya menjadi lampu sorot: momen ketika kebenaran mulai menembus retakan kebohongan.

Begitu pula yang terjadi dalam kasus kematian tragis Dwinanda Linchia Levi, dosen muda Untag Semarang, yang ditemukan tewas tanpa busana pada Senin (17/11/2025).

Nama yang paling banyak disebut publik?

AKBP Basuki — saksi kunci, orang pertama yang melapor, dan kini menjadi pusat perhatian setelah sejumlah pernyataannya terbukti tidak sesuai fakta.

Dalam gelombang dinamika penyelidikan Polda Jateng, setiap detail yang tersembunyi mulai menemukan tempatnya. Persis seperti puzzle yang akhirnya mulai tersusun.

Kronologi Versi Media: Kebohongan yang Satu per Satu Runtuh

Satu per satu, kebohongan yang disampaikan AKBP Basuki dalam kasus kematian Dosen Untag Semarang mulai terbongkar.

Perjalanan kasus ini dimulai ketika korban ditemukan tewas tanpa busana — sebuah kondisi yang langsung memicu kejanggalan.

DLL atau Dwinanda Linchia Levi diketahui ditemukan dalam kondisi tergeletak tanpa busana pada Senin (17/11/2025).

Meski AKBP Basuki menjadi pihak pertama yang melapor, keterangannya justru menjadi objek pemeriksaan mendalam.

Sebelumnya, sosok polisi ini menjadi saksi kunci dalam kasus kematian dosen Untag Semarang itu.

Meski kesaksiannya menjadi salah satu awal terbukanya kasus kematian sang dosen, namun satu per satu kebenaran dalam kasus itupun terungkap.

Polda Jateng kini menyiapkan gelar perkara untuk menentukan status resmi sang perwira.

Baca Juga: Beri Sinyal Serius dengan Justin Hubner, Jennifer Coppen Siap Pindah ke Luar Negeri: 'Mungkin Lebih Cepat'

1. “Mengaku Hanya Menemukan Korban” — Tapi Fakta Bicara Lain

‎AKBP Basuki sendiri memang orang pertama yang melaporkan kematian korban ke kepolisian, hanya ia sempat menyampaikan jika hanya menemukan korban.

Keterangan itu runtuh setelah pemeriksaan membuka fakta mengejutkan: ia ada di kamar yang sama saat korban meninggal.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, bahkan mengonfirmasi langsung:

‎“Iya, dia melihat detik-detik kematian. AKBP B merupakan saksi kunci baik dalam penyelidikan pidana maupun etik,” jelasnya.

2. Hubungan Asmara yang Disembunyikan Selama Lima Tahun

Sebelumnya AKBP Basuki berkelit bahwa kedekatannya hanya karena simpati.

‎“Saya sudah tua. Tidak ada hubungan seperti yang orang pikirkan,” kata AKBP Basuki.

Namun fakta yang muncul justru bertolak belakang:

‎“Benar ada hubungan asmara dan tinggal satu rumah. Itu disampaikan langsung oleh AKBP B saat pemeriksaan," ujar Artanto di Mapolda Jateng, Kamis (20/11/2025).

Kebenaran hubungan gelap itu menjadi simpul penting dalam motif dan dinamika kasus ini.

3. Masuk Satu KK Meski Sudah Berkeluarga

Kejanggalan lain muncul dari data administrasi kependudukan.

‎Meski bukan berstatus pasangan suami istri, ternyata ditemukan fakta jika AKBP Basuki dengan Dosen Untag Semarang Dwinanda Linchia Levi masuk dalam satu Kartu Keluarga (KK).

Keluarga korban bahkan tidak mengetahui keberadaan nama Basuki di KK tersebut.

‎"Jadi sampai saat ini keluarga tidak tahu apakah ada hubungan asmara atau hubungan khusus," kata Kuasa hukum keluarga Dwinanda Linchia Levi, Zainal Abidin Petir.

‎"Hanya mulai menebak-nebak, karena kok sampai satu KK, sementara dia (AKBP B) masih ada istri dan satu anak," kata Zainal…

Hubungan yang ditutupi selama bertahun-tahun itu makin mempertebal kecurigaan.

4. Pelanggaran Kode Etik yang Awalnya Dibantah

Basuki sempat menolak bahwa ia tinggal satu atap dengan Levi.

Ia menyampaikan bahwa tak ada ikatan perkawinan apapun meski sang dosen berada dalam satu KK yang sama dengan dirinya dan istri serta anak kandungnya.

Namun pemeriksaan internal membuktikan sebaliknya.

Menurut keterangan, AKBP Basuki ternyata sudah tinggal bersama sang dosen Untag Semarang selama 5 tahun.

Akibatnya, ia kini menjalani penempatan khusus selama 20 hari.

Pelanggaran yang disorot bukan hal sepele:

‎“Pelanggarannya adalah yang bersangkutan tinggal dengan wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah," kata dia.

“Perbuatan AKBP Basuki ini… merupakan pelanggaran kode etik yang berat…”

Hubungan gelap itu disebut sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19.

Kasus yang Masih Berjalan, Publik Menanti Titik Terangnya

Kini, publik menunggu gelar perkara Polda Jateng. Penyidik terus mengumpulkan bukti untuk memastikan kronologi, termasuk komunikasi dan hubungan asmara korban dan AKBP Basuki.

Sehingga pihak Polda Jateng pun melakukan pemeriksaan kembali dan melengkapi bukti-bukti pendukung mengenai keterlibatan AKBP Basuki dan dosen Untag Semarang itu. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#viral #kasus kematian #dosen perempuan #Untag Semarang #AKBP Basuki