SOLOBALAPAN.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Selatan kembali menjadi sorotan besar setelah terungkap bahwa pengelolaan 41 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada di tangan satu nama: Yasika Aulia Ramadhani, putri dari Wakil Ketua DPRD Sulsel, Yasir Machmud.
Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, dominasi tersebut membuatnya dijuluki publik sebagai “Ratu MBG”—meski status ini justru memicu pemeriksaan ulang dari Badan Gizi Nasional (BGN) hingga komentar tegas dari elite Partai Gerindra.
BGN Cek Ulang 41 Dapur Milik Yayasan Yasika Group
Wakil Ketua BGN, Nanik S Deyang, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengecek langsung kepemilikan seluruh dapur yang diklaim Yasika.
“Saya ngecek ke dalam. Ke orang yg melakukan verifikasi, dan benar (punya 41 dapur -red),” kata Nanik.
Dari pengecekan internal ditemukan penggunaan beberapa yayasan untuk memperoleh jatah lebih banyak.
Padahal, BGN sebelumnya sudah membatasi jumlah dapur yang boleh dikelola satu yayasan.
Regulasi BGN: Tidak Boleh Monopoli
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan aturan sangat jelas: satu yayasan hanya boleh mengelola 10 dapur di provinsi yang sama.
"BGN menetapkan bahwa satu yayasan hanya boleh mengelola 10 dapur pada provinsi yang sama. Kalau dia pindah provinsi hanya lima, sudah pasti,” kata Dadan.
Ia menegaskan seleksi dilakukan secara profesional dan tidak melihat latar belakang pemohon.
Gerindra Turun Tangan, Dasco: “Kita tertibkan”
Kontroversi ini memuncak setelah mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, mempertanyakan hal tersebut di media sosial.
Unggahan itu menyita perhatian Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
"Kita tertibkan," tulis Dasco melalui akun resminya.
Pernyataan singkat namun tegas ini memberi sinyal bahwa partai tidak tinggal diam terhadap dugaan monopoli dalam program nasional MBG.
Skala Bisnis Raksasa di Tangan Sosok 20 Tahun
Dalam sebuah acara peresmian dapur MBG di Bone, Yasika mengungkapkan bahwa Yayasan Yasika Group kini mengoperasikan:
* 16 dapur di Makassar
* 3 dapur di Parepare
* 2 dapur di Gowa
* 10 dapur di Bone
“Sejak 6 Januari 2025, kami memulai dari Makassar sebagai pelopor makanan bergizi di Sulsel. Melalui Asta Cita MBG, kami ingin mempercepat pemenuhan gizi anak bangsa,” ungkap Yasika.
Total ada 50 pekerja di setiap dapur, sehingga sekitar 850 tenaga kerja terlibat. Program ini disebut telah melayani 60 ribu penerima manfaat.
Namun di balik klaim keberhasilan itu, potensi bisnis yang dikelola juga sangat besar.
Investasi satu dapur disebut bisa mencapai Rp1,5 miliar, sehingga total investasi 41 dapur bisa menyentuh Rp61,5 miliar.
Jika tiap dapur melayani 3.000 porsi dengan keuntungan Rp2.000 per porsi, potensi pendapatan bersih bisa mencapai Rp246 juta per hari atau sekitar Rp6,3 miliar per bulan.
Angka ini jauh di atas pendapatan resmi ayahnya, Yasir Machmud, yang sekitar Rp56 juta per bulan.
Yasika: “Dapur MBG Menggerakkan Ekonomi Lokal”
Yasika membantah tudingan negatif dan menyatakan bahwa kehadiran dapur justru memberi dampak positif.
“Soal dapur MBG itu untuk menggerakkan ekonomi lokal. Sebab, kami perlu pasokan bahan baku dari petani, peternak, dan pekebun,” katanya.
Aduan Dibuka 24 Jam, BGN Minta Masyarakat Laporkan Dugaan Monopoli
Atas menguatnya dugaan penyalahgunaan skema MBG, BGN mengaktifkan kanal aduan Sahabat Sentra Aduan Gizi Interaktif (SAGI) di nomor 127 yang beroperasi 24 jam.
Kanal ini dibuka untuk menampung laporan dari publik, termasuk soal dugaan monopoli, penggunaan yayasan ganda, atau penyalahgunaan dalam pengelolaan SPPG. (lz)
Editor : Laila Zakiya