SOLOBALAPAN.COM - Erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025 kembali memicu situasi darurat di Lumajang, Jawa Timur.
Letusan yang menyemburkan awan panas hingga 2.000 meter ini bukan hanya memaksa ratusan warga mengungsi, tetapi juga membuat 178 orang terjebak di kawasan Ranu Kumbolo.
BNPB, TNBTS, dan PVMBG turun langsung menangani kondisi yang terus berubah akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
300 Warga Dievakuasi dari Zona Rawan Erupsi
Tak lama setelah erupsi terjadi, BNPB bergerak cepat mengevakuasi warga di kawasan terdampak.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memastikan proses evakuasi berlangsung sejak sore hari.
Evakuasi dilakukan terhadap warga dari:
* Desa Supit Urang
* Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo
* Desa Penggal, Candipuro
Warga sementara ditempatkan di:
* Balai Desa Oro-oro Ombo
* Balai Desa Penggal
* Gedung SD 2 Supiturang, Pronojiwo
Menurut Abdul Muhari, "Data sementara sebanyak 300 warga mengungsi. Namun, pendataan masih dilakukan tim di lapangan."
BNPB juga mengaktifkan Pos Komando dan menetapkan masa Tanggap Darurat 19–26 November 2025.
Ia menegaskan, "Hal ini diharapkan pos komando segera diaktifkan dan penanganan darurat bencana dapat berjalan secara efektif."
178 Pendaki Terjebak di Ranu Kumbolo
Erupsi berdampak besar pada aktivitas pendakian di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Jalur pendakian ditutup total setelah kolom abu membumbung tinggi dan material guguran bergerak ke lereng.
Kepala Bagian Tata Usaha TNBTS, Endrip Wahyutama, memastikan seluruh pengunjung telah terdata:
“Jumlah orang yang berada di Ranukumbolo sebanyak 178 orang,” ujarnya.
Rinciannya:
* 173 pendaki
* 1 petugas lapangan
* 2 anggota tim penyelamat
* 7 personel PPGST
* 15 porter
* 6 orang dari Tim Kemenparekraf
Peningkatan tekanan di kawah Jonggring Saloko membuat proses evakuasi tak bisa dilakukan sembarangan. PVMBG melaporkan potensi awan panas dan jarak pandang yang sangat terbatas.
Hingga kini seluruh pendaki dilaporkan stabil. Namun, perjalanan turun belum dapat dilakukan karena kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik tidak menentu.
Status Gunung Semeru Meningkat Menjadi Level IV (Awas)
Letusan sore hari itu membuat PVMBG resmi menaikkan status Gunung Semeru menjadi Level IV (Awas). Balai Besar TNBTS langsung menutup seluruh aktivitas pendakian.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan:
"Sehubungan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tentang tingkat aktivitas Gunung Semeru dari Level II ke III dan level IV, maka kegiatan pendakian Gunung Semeru dinyatakan ditutup."
TNBTS meminta pendaki yang sudah memiliki tiket daring untuk menjadwalkan ulang kunjungan.
Rudi menegaskan, "Kami berharap ini bisa menjadi perhatian bagi para calon pendaki, masyarakat, dan pecinta alam untuk mematuhi rekomendasi zona bahaya dari PVMBG."
Sementara itu, Endrip Wahyutama menambahkan bahwa situasi Ranu Kumbolo relatif aman karena berada di sisi utara:
"Oleh karena itu, para pengunjung tetap bermalam di lokasi, mengingat perjalanan kembali ke Ranupani cukup berisiko karena sudah malam dan cuaca di kawasan tersebut sedang hujan." (lz)
Editor : Laila Zakiya