SOLOBALAPAN.COM - Kasus hilangnya dan munculnya seorang kiper muda asal Indonesia, Rizki Nurfadhila, di Kamboja menjadi salah satu isu paling panas di media sosial.
Publik ramai membicarakan bagaimana remaja berusia 18 tahun itu bisa berada di luar negeri dan mengapa ia sampai disebut-sebut sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Berawal dari video sang nenek yang viral, hingga munculnya klarifikasi penuh kejanggalan dari Rizki sendiri, kasus ini berkembang menjadi fenomena nasional.
Siapa Rizki Nurfadhila?
Rizki Nurfadhila, atau dikenal juga sebagai Rizki Nur Fadilah, adalah seorang kiper muda asal Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Sebelum kasusnya mencuat, namanya tak banyak dikenal publik.
Namun segalanya berubah ketika keluarganya melaporkan bahwa Rizki tiba-tiba berada di Kamboja, bukan di Jakarta ataupun Medan seperti yang sebelumnya ia sampaikan kepada mereka.
Awal Mula: Dijanjikan Ikut Seleksi PSMS Medan
Kronologi awal mencuat dari penjelasan sang nenek, Imas Siti Rohana.
Rizki diduga mendapat tawaran dari seseorang yang dikenalnya lewat Facebook untuk ikut seleksi di klub PSMS Medan.
Ia awalnya hendak dibawa ke Jakarta dan keluarga menerima kabar bahwa ia aman di Ibu Kota.
Namun drama dimulai pada 4 November 2025, ketika ibunya yang sedang bekerja di Hong Kong justru mendapat kabar bahwa Rizki berada di Kamboja.
Orang yang mengaku sebagai manajemen yang membawa Rizki untuk seleksi sepak bola pun tak bisa lagi dihubungi sejak 29 Oktober 2025.
Sinyal TPPO Muncul dari Pengakuan Rizki
Komunikasi Rizki dengan keluarganya masih terjalin, dan di sinilah muncul indikasi awal dugaan TPPO.
Rizki pernah mengatakan ia tidak baik-baik saja dan bahkan mengaku bahwa pekerjaannya di Kamboja adalah menipu orang-orang Cina lewat komputer.
Pernyataan ini langsung memantik kecurigaan publik, mengingat banyak kasus warga Indonesia yang disekap dan dipaksa bekerja sebagai scammer di Kamboja.
Klarifikasi Rizki yang Justru Menambah Kecurigaan
Setelah namanya viral, Rizki akhirnya membuat video klarifikasi.
Video tersebut diunggah ulang oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui TikTok.
Dalam klarifikasinya, Rizki membantah bahwa dirinya adalah korban TPPO dan menegaskan bahwa ia pergi ke Kamboja atas keinginan pribadi tanpa paksaan.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan sudah diberi makan.
Namun publik menemukan sejumlah kejanggalan.
1. Diduga Ada Orang Lain Mengarahkan
Dalam video itu, warganet mendengar suara lain yang mengatakan kata "cambuk" di awal rekaman.
Dugaan bahwa Rizki berada di bawah tekanan pun semakin kuat.
2. Pengakuan yang Saling Bertolak Belakang
Dalam unggahan di akunnya, Rizki menulis penjelasan yang membingungkan.
Ia mengaku tidak disiksa, tetapi dalam kolom caption mengatakan bahwa ia tidak bisa keluar dari Kamboja karena dimintai uang tebusan Rp42 juta.
Ia menulis:
"… perusahaan saya meminta uang tebusan Rp42 juta… visa, pasport, dan biaya agency VIP line juga, perusahaan tidak meminta uang sedikitpun terima kasih."
Keterangan ini saling bertentangan—menyebut ada tebusan, tetapi di akhir membantah adanya permintaan uang dari perusahaan. Publik semakin yakin ada tekanan dalam penyampaian klarifikasi tersebut.
Respons Pemerintah Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi bahwa pemerintah provinsi tetap akan membantu proses pemulangan Rizki jika ia benar ingin kembali.
"Mengenai masalah ini… kami akan mengembalikannya," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemprov Jabar akan menyiapkan seluruh keperluan kepulangan Rizki, termasuk pembiayaannya. (lz)
Editor : Laila Zakiya