Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sosok KRAy Winari, Ibu KGPH Hangabehi Disorot usai Sang Putra Rebutan Tahta Pakubuwono XIV dengan KGPH Purbaya, Ini Profilnya

Laila Zakiya • Jumat, 14 November 2025 | 18:16 WIB
KGPH Hangabehi (paling kiri) dan KGPH Purbaya (dua dari kiri) berjejeran saat menyambut kedatangan Sri Sultan Yogyakarta di Keraton Kasunanan Surakarta (5/11)
KGPH Hangabehi (paling kiri) dan KGPH Purbaya (dua dari kiri) berjejeran saat menyambut kedatangan Sri Sultan Yogyakarta di Keraton Kasunanan Surakarta (5/11)

SOLOBALAPAN.COM - Ketika nama dua pangeran Keraton Surakarta tiba-tiba muncul sebagai "dua raja" dalam satu wilayah adat, publik langsung bertanya-tanya: siapa sebenarnya orang-orang di lingkar terdekat mereka?

Dan di tengah pusaran suksesi yang makin panas ini, satu nama kembali menyeruak ke permukaan—KRAy Winari Sri Haryani, ibu dari KGPH Hangabehi, pihak yang dinobatkan sebagai PB XIV versi Lembaga Dewan Adat (LDA).

Sorotan publik tidak hanya tertuju pada dua putra PB XIII yang sama-sama mengklaim legitimasi takhta, tetapi juga pada sosok ibu yang melahirkan putra tertua sang raja.

Karena dalam adat Jawa, siapa ibunya sering kali menjadi potongan puzzle yang menentukan arah alur suksesi.

Perjalanan Hidup Winari: Istri Kedua PB XIII Sebelum Naik Takhta

KRAy Winari Sri Haryani dikenal sebagai istri kedua PB XIII.

Mereka menikah sebelum PB XIII resmi dinobatkan sebagai raja pada 2004.

Dari pernikahan itu, Winari menerima gelar bangsawan Kanjeng Raden Ayu Winari.

Pernikahan ini menjadi fase penting karena dari sinilah lahir putra sulung PB XIII, sosok yang kini berada di jantung perebutan takhta: KGPH Hangabehi (sebelumnya bergelar KGPH Mangkubumi).

Selain Hangabehi, Winari juga melahirkan dua putri: almarhum BRAy Sugih Oceania dan GRAy Putri Purnaningrum.

Ketiga anak itu menjadi bagian dari tujuh keturunan PB XIII dari tiga pernikahan berbeda.

Meski demikian, hubungan rumah tangga Winari dan PB XIII berakhir sebelum PB XIII naik takhta.

Ini membuat Winari tidak berstatus permaisuri. Namun garis keturunannya—terutama keberadaan putra sulung—tetap menempatkan Winari pada posisi historis yang signifikan dalam dinamika keluarga raja.

Baca Juga: Geger Keraton Solo: Dualisme Tahta! Kubu LDA dan Tedjowulan Nobatkan KGPH Hangabehi Jadi PB XIV, Tolak Hadiri Jumenengan Gusti Purbaya

Imbas Kisruh Suksesi: Nama Winari Kembali Jadi Sorotan

Setelah PB XIII wafat, keraton memasuki babak baru: perebutan legitimasi antara dua sosok pewaris.

• KGPH Hangabehi dinobatkan oleh LDA dalam upacara di Sasana Handrawina.
• Gusti Purbaya, putra bungsu PB XIII dari permaisuri GKR Pakubuwana, dinyatakan sebagai penerus sah oleh kubu resmi keraton.

Pertarungan dua penobatan ini membuat garis keturunan PB XIII kembali dibedah publik.

Dan karena Hangabehi adalah putra tertua, posisi Winari menjadi semakin penting dalam narasi adat.

LDA berpegang pada prinsip urut tuwa, yang menempatkan anak laki-laki tertua sebagai pewaris utama.

Dalam argumen mereka, faktor ibu tidak memengaruhi legitimasi, sebab hak adat berpijak pada kelahiran putra pertama.

Pernyataan Gusti Moeng bahkan menegaskan: “Dia (Hangabehi) anak tertua dari sinuwun. Harus urut tua. Penetapan putra mahkota sebelumnya bisa batal demi hukum adat dan hukum nasional.”

Dengan munculnya penobatan tandingan, sorotan kembali mengarah pada Winari—sekalipun ia sendiri tidak muncul di ruang publik.

Winari dan Jalur Keturunan yang Kini Dipersoalkan

Ketika Hangabehi dinobatkan sebagai PB XIV versi LDA, publik langsung menelisik ulang struktur keturunan PB XIII:

* Putra tertua: Hangabehi — anak Winari
* Putra bungsu: Purbaya — anak permaisuri GKR Pakubuwana

Fakta inilah yang menjadi titik sengketa:

Kubu resmi menganggap bahwa pewaris harus berasal dari permaisuri.
Kubu LDA menegaskan pewaris haruslah putra tertua, tanpa melihat dari istri keberapa.

Perbedaan tafsir adat ini menjadikan sosok Winari—yang mungkin tak tampak di depan layar—menjadi simbol dari satu kubu yang merasa adat mesti dijalankan apa adanya.

Baca Juga: Vita Amalia ASN di Bengkulu Dipecat usai Nekat Injak Al-Quran, Ternyata Ada Andil Sang Pacar!

Tidak Tampil di Publik, Namun Namanya Ada di Pusat Panggung

Menariknya, selama semua drama perebutan takhta berlangsung, Winari tidak terlihat memberikan pernyataan ataupun tampil di upacara resmi.

Namun catatan sejarah keluarga memperlihatkan bahwa ia memegang peran kunci sebagai bagian dari fase penting kehidupan PB XIII sebelum naik takhta.

Ia adalah penghubung garis keturunan yang kini menjadi dasar argumen LDA. Putra sulungnya, yang lahir jauh sebelum PB XIII menjadi raja, kini berada di pusat kisruh suksesi.

 

Pemerintah pusat belum mengambil sikap final, sementara tensi di internal keraton terus menghangat. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#KRAy Winari Sri Haryani #Pakubuwono XIV #KGPH Hangabehi #raja solo #KGPH Purbaya #profil