Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Rebutan Tahta dengan Gusti Purbaya, Siapa Ibu KGPH Hangabehi yang Kini Juga Nobatkan Diri Jadi Pakubuwono XIV?

Laila Zakiya • Jumat, 14 November 2025 - 17:11 WIB

 

KGPAA Purbaya (dua dari kiri) bersama saudara-saudaranya. (M Ihsan/Radar Solo)
KGPAA Purbaya (dua dari kiri) bersama saudara-saudaranya. (M Ihsan/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM - Keraton Kasunanan Surakarta kembali jadi sorotan nasional.

Bukan soal ritual adat, bukan pula tentang festival budaya—melainkan perebutan takhta yang membuat publik terbelalak.

Dua putra Pakubuwono XIII kini sama-sama berseragam kebesaran, mengklaim satu gelar yang sama: SISKS Pakubuwono XIV.

Di satu sisi ada Gusti Purbaya, sang putra mahkota yang penobatannya sudah dijadwalkan secara resmi.

Namun di sisi lain, ada KGPH Hangabehi, yang juga dinobatkan menjadi raja oleh kubu Lembaga Dewan Adat (LDA).

Kisah ini bukan sekadar rebutan simbol, tetapi juga tentang garis keturunan, hak adat, dan—yang banyak ditanyakan publik—siapa sebenarnya ibu dari KGPH Hangabehi yang membuatnya dianggap sebagai pewaris paling sesuai menurut adat Jawa?

Dua Raja dalam Satu Keraton: Awal Mula Kisruh Takhta PB XIV

Setelah PB XIII wafat, Keraton Solo kembali memasuki babak baru drama suksesi.

Pihak keluarga inti dan panitia resmi menetapkan bahwa KGPAA Hamangkunegoro (Gusti Purbaya)—putra bungsu PB XIII—adalah penerus sah.

Jumenengan Dalem sudah dijadwalkan pada 15 November 2025.

Namun, dua hari sebelumnya, kubu LDA menggelar upacara tandingan di Sasana Handrawina.

Di sana, mereka menobatkan KGPH Hangabehi sebagai raja versi mereka.

Gusti Moeng bahkan membacakan surat Kementerian Kebudayaan sebelum penobatan, menegaskan bahwa langkah mereka dilakukan demi “menyatukan keluarga besar.”

Siapa KGPH Hangabehi? Putra Tertua PB XIII dari Istri Kedua

Di tengah perdebatan siapa yang paling sah menjadi raja, publik mulai menelusuri kembali garis keturunan PB XIII. Dan inilah poin yang krusial:

KGPH Hangabehi adalah putra tertua PB XIII.

Ia lahir dari istri kedua PB XIII, yaitu:

KRAy Winari Sri Haryani.

Dari sinilah akar argumen kubu LDA—bahwa adat Jawa menempatkan anak laki-laki tertua sebagai pewaris takhta yang paling pantas.

KGPH Hangabehi lahir 5 Februari 1985 dengan nama Gusti Raden Mas Soerjo Soeharto, kemudian bergelar KGPH Mangkubumi, hingga akhirnya menjadi Hangabehi setelah keputusan LDA pada Desember 2022.

Pernikahan PB XIII dan KRAy Winari sendiri telah berakhir sebelum beliau naik takhta.

Namun hal ini tidak mengubah fakta bahwa Hangabehi tetap merupakan putra laki-laki pertama.

Sementara Itu, Ibu Gusti Purbaya adalah Permaisuri GKR Pakubuwana.

Di sisi lain, Gusti Purbaya lahir dari istri ketiga PB XIII, yakni GKR Pakubuwana (Asih Winarni). yang merupakan permaisuri resmi.

Posisi sebagai putra mahkota ditetapkan tahun 2022, disaksikan pejabat negara, termasuk:

* Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
* Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi
* Wali Kota Surakarta Respati Ardi

Namun, LDA menolak pengangkatan tersebut dan menyatakan bahwa aturan adat seharusnya mengutamakan putra sulung, bukan putra bungsu meskipun dari permaisuri.

Baca Juga: Membedah Status Hukum LPEI: Antara Keuangan Negara dan Keuangan Lembaga

Kenapa LDA Lebih Mendukung Hangabehi? Ini Penjelasan Adatnya

LDA sebelumnya menolak pengangkatan Gusti Purbaya sebagai putra mahkota karena:

“Dia (Hangabehi) anak tertua dari sinuwun. Harus urut tua. Penetapan putra mahkota sebelumnya bisa batal demi hukum adat dan hukum nasional,” ungkap Gusti Moeng.

Bagi mereka, suksesi harus berdasarkan prinsip urut tuwa, yakni anak laki-laki tertua dari raja, terlepas dari istri mana ia dilahirkan.

Dan karena itu, posisi ibu Hangabehi menjadi faktor penentu dalam klaim takhta.

Lalu, Siapa yang Sah Jadi PB XIV?

Sampai kini, Keraton Solo memiliki dua raja dengan gelar sama:

• PB XIV Gusti Purbaya

• PB XIV Hangabehi

Kemenbudristek dan pemerintah pusat belum mengambil sikap final. Semua pihak menunggu langkah resmi pemerintah untuk menghindari konflik adat berkepanjangan.

Yang jelas, prahara suksesi ini bukan kali pertama terjadi di Keraton Surakarta—namun kali ini, tensinya jauh lebih tinggi karena masing-masing kubu sudah menggelar penobatan resmi. (lz)

 

Editor : Laila Zakiya
#Pakubuwono XIV #keraton solo #KGPH Hangabehi #Keraton Kasunanan #KGPH Purbaya #raja jawa #matahari kembar