Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa Kisah 'Waluh Kukus' Viral? Trauma Anak Miskin yang Dibully Saat Berbagi Takjil, Kini Diangkat Jadi Film

Didi Agung Eko Purnomo • Kamis, 13 November 2025 | 03:03 WIB
Waluh Kukus Viral.
Waluh Kukus Viral.

SOLOBALAPAN.COM - Jagat media sosial dihebohkan oleh pengumuman terbaru dari Falcon Pictures.

Rumah produksi raksasa tersebut mengumumkan akan segera merilis film baru dengan judul yang sangat sederhana namun sarat makna bagi pengguna X (dulu Twitter): "Waluh Kukus".

Bagi yang tidak tahu, "Waluh Kukus" (Labu Kuning Kukus) bukanlah sekadar film kuliner.

Judul ini merujuk pada sebuah utas (thread) lawas yang legendaris di X, yang menceritakan salah satu kisah paling menyedihkan, menyebalkan, sekaligus traumatis tentang kemiskinan dan perundungan (bullying) di masa kecil.

Lantas, kenapa kisah "Waluh Kukus" ini begitu viral dan membekas di hati warganet?

Kisah Trauma di Balik Seember Waluh Kukus

Kisah ini pertama kali dibagikan oleh seorang netizen bernama Ainay melalui akun X-nya @ainayed pada 18 Juli 2021.

Cerita ini adalah pengalamannya pribadi saat ia masih duduk di bangku kelas 4 SD.

1. Upah Waluh, Bukan Uang

Ainay bercerita, keluarganya dulu hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Suatu hari, ibunya, yang bekerja sebagai buruh pemetik labu kuning (waluh), tidak diberi upah berupa uang. Ia hanya dibayar dengan dua buah labu kuning hasil panen.

2. Niat Mulia Sang Ibu

Meskipun dibayar dengan "hanya" labu, sang ibu justru merasa sangat bahagia. Akhirnya, ia memiliki sesuatu untuk disumbangkan sebagai takjil (makanan berbuka) untuk anak-anak yang mengaji (tadarus) di masjid dekat rumahnya.

"Terus aku ingat makku ngomong, 'Alhamdulillah punya waluh, bisa buat nyumbang takjil orang tadarus. Sedih, ndak pernah ngasih apa-apa untuk orang ngaji'," Tulis Ainay.

3. Momen Penuh Hinaan

Sang ibu memasak labu itu menjadi waluh kukus.

Ainay kecil pun dengan bangga membawanya seember penuh ke masjid. Namun, di luar dugaan, tak ada yang mau menyentuhnya.

Puncaknya, seorang anak yang lebih tua bernama Yati (kelas 6 SD) menghampiri ember tersebut.

Ia menusuk-nusuk labu itu dengan ujung jarinya seolah merasa jijik.

"Sambil ngomong, 'Hiii panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong?' (Hi, makanan apaan nih? Masa bentuk kayak t*i gini dikasih ke orang?)" kenang Ainay dalam utasnya.

4. Dibully dan Ditertawakan

Mendengar makanan dari ibunya dihina sekeji itu, Ainay kecil marah dan membalas Yati.

Namun, Yati justru menghasut belasan anak-anak lain di sana untuk menertawakan dan mengolok-olok Ainay.

5. Kebohongan Demi Menjaga Hati Ibu

Ainay akhirnya pulang sambil menangis, membawa kembali seember penuh waluh kukus yang tak tersentuh.

Takut ibunya kecewa dan sedih, Ainay mengambil keputusan yang paling menyakitkan.

Ia bersembunyi dan memaksa dirinya memakan seluruh waluh kukus di ember itu sendirian.

Sambil menangis, ia terus memasukkan waluh ke mulutnya hingga akhirnya ia terjatuh dan muntah-muntah.

Setibanya di rumah, sang ibu menyambutnya dengan wajah berbinar ("semringah") melihat ember itu kosong.

"Makku nanya semringah, 'Siapa aja yang makan waluhnya kok sampe habis?' Kusebutin nama anak-anak yang tadi ada di langgar. Terus makku ngucap Alhamdulillah berkali-kali karena makanan yang beliau taruh di langgar... beneran habis dimakan, nggak mubazir," tulis Ainay.

6. Trauma Seumur Hidup Peristiwa itu meninggalkan luka yang begitu dalam. "Sejak itu aku nggak pernah makan waluh kukus lagi," ungkap Ainay.

Kini Diangkat ke Layar Lebar

Kisah pilu tentang kemiskinan, perundungan, dan sebuah kebohongan kecil untuk menjaga martabat seorang ibu inilah yang membuat utas "Waluh Kukus" begitu melegenda di X.

Kini, Falcon Pictures telah merilis poster resmi film tersebut, yang menampilkan sebuah labu kuning utuh dengan judul "Waluh Kukus".

Belum ada detail lebih lanjut mengenai siapa pemeran atau sutradaranya, namun pengumuman ini sontak membuat warganet bernostalgia dan kembali merasakan kepiluan dari kisah tersebut. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Anak miskin #falcon pictures #dibully #trauma #Waluh Kukus #film