SOLOBALAPAN.COM - Fakta baru yang mengerikan terungkap dari penyelidikan kasus ledakan bom di Masjid SMAN 72 Jakarta.
Tim Densus 88 Antiteror Polri mengonfirmasi bahwa pelaku, yang merupakan siswa kelas XII berinisial FN, ternyata menyimpan dendam kesumat sejak awal tahun 2025 akibat perundungan (bullying) yang diterimanya.
Pelaku, yang kini berstatus Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), diketahui merasa terisolasi dan kesepian.
Yang lebih mengkhawatirkan, ia terbukti bergabung dengan sebuah komunitas online di media sosial yang secara aktif mengagungkan dan memuji tindak kekerasan brutal.
Mencari Validasi di Komunitas Pemuja Kekerasan
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa pelaku merasa tertindas dan tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa.
Perasaan dendam ini mendorongnya untuk mencari informasi di internet tentang cara-cara melakukan kekerasan.
Di situlah ia menemukan dan bergabung dengan komunitas online tersebut.
Mayndra menyebut, di dalam grup itu, para anggota biasa mengunggah rekaman aksi brutal mereka dan akan mendapatkan pujian.
"Motivasinya (muncul) ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu di-upload ke media tersebut. Komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang dianggap heroik," ujar Mayndra, Selasa (11/11/2025).
Pujian "heroik" dari komunitas sesat inilah yang diduga kuat memotivasi dan menginspirasi FN untuk melakukan aksinya di sekolah.
Terobsesi Teroris Pembantai Jemaah Masjid
Obsesi pelaku terhadap kekerasan semakin parah setelah ia mempelajari berbagai kasus penembakan massal di luar negeri.
Hal ini terbukti dari temuan di lokasi ledakan.
Pelaku menempelkan nama-nama teroris supremasi kulit putih (pembantai jemaah masjid) di senjata mainan yang dibawanya sebagai bentuk kekaguman.
Nama-nama teroris yang ia tulis antara lain:
-
Brenton Tarrant: Pelaku penembakan brutal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru (2019).
-
Alexandre Bissonnette: Pelaku penembakan di masjid Quebec City, Kanada (2017).
-
Luca Traini: Pelaku penembakan migran Afrika di Macerata, Italia (2018).
Korban Bully yang Menjadi Pelaku Teror
Kombinasi antara dendam pribadi akibat bullying, rasa kesepian, dan radikalisasi online dari komunitas pemuja kekerasan, akhirnya mendorong FN melakukan aksi terornya pada Jumat (7/11/2025) lalu, yang menyebabkan 54 siswa lainnya luka-luka. (did)