SOLOBALAPAN.COM - Nama Nessie Judge, YouTuber asal Indonesia yang dikenal dengan konten misteri dan kriminal, kini tengah jadi sorotan internasional—tepatnya di Jepang.
Ia menuai kecaman keras setelah diduga menampilkan foto Junko Furuta, korban kasus pembunuhan paling sadis dalam sejarah Negeri Sakura, sebagai dekorasi bertema Halloween di salah satu videonya.
Kontroversi ini membuat publik Jepang marah besar. Sebab, bagi mereka, Junko Furuta bukan sekadar nama dalam arsip kriminal, melainkan simbol tragedi yang menyayat hati dan masih membekas hingga kini.
Awal Mula Kontroversi: Foto Junko di Konten Halloween Nessie Judge
Masalah bermula dari video kolaborasi Nessie Judge dan grup K-Pop NCT Dream dalam segmen #NERROR yang dirilis awal November 2025.
Video yang awalnya disambut antusias oleh penggemar justru berubah menjadi perdebatan panas ketika seorang warganet Jepang menemukan foto Junko Furuta terpajang di latar syuting.
Seorang pengguna X dengan akun @qweenbeeval menulis kritik keras yang menyebut penggunaan foto korban “femisida paling mengerikan dalam sejarah Jepang” itu sebagai dekorasi menyeramkan untuk hiburan Halloween adalah “tindakan menjijikkan”.
Cuitan tersebut viral dan membuat nama Nessie Judge menjadi trending topic di X Jepang.
Publik Jepang menilai langkah Nessie tidak berempati dan tidak memahami sensitivitas budaya mereka.
Bahkan, beberapa menganggap tindakan itu memperburuk citra Indonesia di mata Jepang, terlebih karena melibatkan figur populer seperti NCT Dream.
Siapa Sebenarnya Junko Furuta?
Kasus Junko Furuta adalah salah satu peristiwa kriminal paling kelam di Jepang.
Junko, seorang siswi SMA berusia 17 tahun, diculik, disiksa, diperkosa, dan dibunuh secara brutal pada tahun 1988 oleh sekelompok remaja laki-laki.
Tragedi ini bermula ketika Hiroshi Miyano (18) dan Shinji Minato (16) melihat Junko saat pulang dari kerja paruh waktu.
Atas perintah Miyano, Minato menendang Junko hingga jatuh dari sepeda, sementara Miyano berpura-pura menolong dan menawarkan untuk mengantarnya pulang.
Namun, Junko justru dibawa ke sebuah gudang, diancam, dan dirudapaksa.
Miyano kemudian memanggil teman-temannya — Jō Ogura (17) dan Yasushi Watanabe (17) — untuk bergabung.
Sejak malam itu, Junko dikurung di rumah keluarga Minato, disiksa setiap hari selama 40 hari penuh.
Ia mengalami kekerasan fisik dan seksual yang tak terbayangkan: dibakar, dipukuli, dipaksa menelan cairan berbahaya, dan dipermalukan berkali-kali.
Pada akhirnya, tubuh Junko ditemukan terbungkus dalam semen di dalam drum logam yang dibuang ke area konstruksi di Kōtō, Tokyo, pada 5 Januari 1989.
Kasus ini kemudian mengguncang Jepang dan dunia internasional.
Klarifikasi Nessie Judge: ‘Bentuk Penghormatan yang Salah Kaprah’
Menanggapi gelombang kritik, Nessie Judge segera memberi klarifikasi.
Ia menjelaskan bahwa foto Junko Furuta yang terlihat di videonya tidak dimaksudkan sebagai dekorasi Halloween, melainkan bentuk “penghormatan terhadap kasus yang paling banyak diminta penontonnya” di segmen #NERROR.
“Background yang kalian lihat bukan sekadar hiasan atau estetika. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap kasus yang belum mendapatkan keadilan dan tidak boleh dilupakan,” tulis Nessie.
Ia menambahkan bahwa bagian mata Junko sengaja ditutup hitam sebagai tanda hormat terhadap korban, sebagaimana dilakukan di seluruh thumbnail video bertema kriminal di kanalnya.
Namun, pernyataan itu tidak meredakan amarah publik.
Warganet Jepang menganggap “penghormatan” Nessie justru mempermainkan tragedi.
Mereka menilai, menampilkan wajah korban kejahatan kejam dalam konteks hiburan adalah bentuk ketidaksensitifan yang luar biasa.
Permintaan Maaf yang Menuai Kritik Balik
Setelah kritik semakin memuncak, Nessie akhirnya mengunggah permintaan maaf terbuka dalam bahasa Inggris dan Jepang.
Ia menulis bahwa tindakan timnya adalah “kesalahan besar dalam penilaian” dan berjanji akan memperbaiki proses produksi ke depannya.
"Apa yang kami anggap sebagai bentuk penghormatan, ternyata adalah tindakan yang tidak sopan dan tidak peka. Kami dengan tulus meminta maaf atas kurangnya penilaian kami," ujar Nessie.
Namun, permintaan maaf itu kembali menuai sorotan setelah Nessie menulis di Instagram Story,
"Don't worry, the video will be back. We're re-editing it."
Kalimat tersebut dianggap menunjukkan kurangnya empati dan kesadaran moral, seolah video itu hanya perlu diedit ulang, bukan ditarik karena menghina korban.
Banyak netizen menilai Nessie tidak benar-benar menyesal, hanya merespons untuk meredakan kemarahan publik.
Komentar seperti “Gini nih kalo nyari duit dari hilangnya nyawa orang” dan “Kirain beneran sadar, ternyata cuma damage control” membanjiri media sosial. (lz)
Editor : Laila Zakiya