SOLOBALAPAN.COM - Kasus yang menimpa Fatiyah, siswi SD di Palembang yang pulang sekolah dengan kondisi mata merah seperti berdarah, kini memasuki babak baru.
Setelah ramai dugaan kekerasan oleh oknum guru, muncul versi lain yang menyebut bahwa kondisi mata Fatiyah bukan akibat kekerasan, melainkan gejala penyakit pertusis atau batuk rejan.
Namun, benarkah penyakit tersebut bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah di mata seperti yang dialami Fatiyah?
Viral Dugaan Kekerasan, Kini Disebut Pertusis
Kasus ini bermula saat Fatiyah, siswi SDN 150 Sungai Tenang, Gandus, Palembang, ditemukan ibunya, Erna, dalam kondisi mengenaskan.
Bagian putih bola matanya berubah menjadi merah menyala, seolah berdarah.
Video tangis Erna saat melihat kondisi anaknya viral di media sosial.
Ia menolak penjelasan pihak sekolah yang menyebut Fatiyah terluka karena “terlalu sering main HP”.
Bahkan, sang ibu sempat mendengar pengakuan anaknya yang menyebut “ibu guru yang ada cincinnya” sebelum dibawa ke rumah sakit.
Namun, di tengah derasnya tudingan kekerasan, beredar kabar bahwa kondisi mata merah tersebut bisa terjadi akibat penyakit pertusis.
Isu ini membuat publik bertanya-tanya: apakah benar batuk rejan bisa menyebabkan pecah pembuluh darah di mata anak-anak?
Penjelasan Medis: Pertusis Bisa Sebabkan Batuk Hebat, Tapi Kasus Pecah Pembuluh Darah Sangat Jarang
Pertusis adalah penyakit menular akibat bakteri Bordetella pertussis yang menyerang saluran pernapasan.
Gejala awalnya menyerupai flu, seperti pilek dan batuk ringan.
Namun, dalam fase lanjut, penderita bisa mengalami batuk paroksismal—batuk hebat yang berlangsung lama dan menyebabkan kesulitan bernapas hingga wajah memerah.
Menurut catatan medis, batuk hebat akibat pertusis memang dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah kecil di sekitar mata (subconjunctival hemorrhage).
Tetapi, kemungkinan kejadiannya sangat rendah.
Seorang dokter gigi sekaligus edukator kesehatan, drg. Mirza, menyoroti isu ini lewat unggahan di Instagram Story-nya.
Ia menampilkan pesan dari seorang dokter bedah yang menjelaskan bahwa kasus seperti Fatiyah lebih cocok disebut trauma tumpul akibat benturan fisik, bukan efek batuk pertusis.
Dalam unggahan berikutnya, drg. Mirza menampilkan referensi medis yang menyebut bahwa kejadian pecah pembuluh darah di mata karena batuk hanya terjadi sekitar 0,04–0,05% kasus—teramat jarang, kecuali pada anak yang batuk sangat parah hingga kesulitan bernapas.
Ia pun mengingatkan agar tenaga medis berhati-hati dalam menegakkan diagnosis, terutama untuk kasus yang sedang menjadi sorotan publik seperti ini.
Publik Ragu, Trauma Fatiyah Belum Pulih
Meski muncul penjelasan medis terkait pertusis, banyak pihak tetap menilai kondisi Fatiyah lebih mirip akibat benturan benda tumpul, bukan efek penyakit.
Apalagi, berdasarkan pengakuan ibunya, sang anak masih menunjukkan tanda-tanda ketakutan dan menolak kembali ke sekolah.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pendidikan atau Kepolisian Palembang mengenai hasil penyelidikan lanjutan kasus ini. (lz)