SOLOBALAPAN.COM — Kasus dugaan kekerasan terhadap siswi Sekolah Dasar (SD) di Palembang bernama Fatiyah kini tengah menyita perhatian publik.
Bocah perempuan itu pulang sekolah dalam kondisi mata merah seperti berdarah, yang belakangan diketahui akibat pecah pembuluh darah diduga karena pukulan benda tumpul.
Peristiwa ini terjadi di SDN 150 Sungai Tenang, Gandus, Palembang, dan memicu gelombang protes warganet setelah video kesaksian ibu korban, Erna, beredar luas di media sosial.
Pulang Sekolah dengan Mata Berdarah
Erna menceritakan bahwa dirinya terkejut saat menjemput Fatiyah pulang dari sekolah.
Bagian putih bola mata sang anak berubah menjadi merah menyala, seolah berdarah.
Dalam video yang diunggah akun @topjabar.co, terlihat Erna menangis histeris melihat kondisi Fatiyah.
Ia mengaku tidak menerima penjelasan guru yang menuding kondisi itu akibat “terlalu sering main HP”, sebab Fatiyah jarang memegang ponsel di rumah.
Kesaksian Ibu Fatiyah: “Katanya Ibu Guru yang Ada Cincinnya”
Pengakuan mengejutkan datang dari Erna.
Dalam unggahan akun @virasoniaaaa (4/11/2025), ia menceritakan bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, Fatiyah sempat berucap lirih menyebut ciri seseorang yang diduga melukainya.
“Katanya ibu guru yang ada cincinnya, (ngomongnya) lagi sebelum dibawa ke rumah sakit,” ungkap Erna.
Sejak kejadian itu, Fatiyah mengalami trauma berat. Ia bahkan menolak pergi ke sekolah dan menangis setiap kali melewati gedung SD-nya.
“Takut, trauma,” kata Erna.
Ungkapan itu memancing simpati publik, banyak yang meminta agar Fatiyah segera mendapat pendampingan psikolog anak.
“Tolong dibawa ke psikolog anak. Mungkin bisa terobati luka batinnya, jadi adiknya bisa terbuka dan gak takut cerita apa yang sebenarnya terjadi,” tulis akun @fatun_nita22.
Guru Bantah Ada Kekerasan, Tapi Publik Tak Percaya
Sementara itu, pihak SDN 150 Sungai Tenang Gandus membantah adanya kekerasan.
Dalam wawancara yang diunggah akun @oypalembang (3/11/2025), salah satu guru mengatakan bahwa tidak ada kejadian aneh selama jam belajar.
“Seperti biasa, tetapi alhamdulillah dari awal sampai pulang tidak ada kejadian apa-apa,” ujar sang guru.
Ia juga bersumpah bahwa kondisi Fatiyah tampak normal saat di kelas.
“Alhamdulillah matanya merah tadi kan ini ya terus dia duduk di depan sekali bu semaunya... Demi Allah aman, gak ada nangis gimana,” tegasnya.
Namun, pernyataan itu justru menuai keraguan publik.
Beberapa netizen menilai ciri luka yang dialami Fatiyah tidak mungkin akibat benturan biasa.
“Memar Fatiyah bukan jatuh, ini pukulan tangan tergenggam. Fakta medis: memar simetris ‘kacamata’ = trauma hidung terfokus, tidak ada lecet = bukan terbentur meja,” tulis akun @kamalfh89.
Ancaman Balik dari Guru
Erna sempat berencana melaporkan kasus ini ke pihak berwajib, namun niat itu terhenti karena adanya ancaman balik dari guru.
“Ketika bi Erna bilang ingin melaporkan ke pihak berwajib, respon salah satu gurunya seperti ini ‘Jangan asal tuduh nanti kamu bisa dilaporin balik’ sehingga bi Erna takut untuk melaporkannya,” tulis narasi yang dibagikan akun @topjabar.co.
Ancaman itu membuat keluarga korban semakin terpojok.
Trauma Mendalam dan Tanggung Jawab yang Terabaikan
Hingga kini, Fatiyah masih enggan berbicara tentang pelaku. Setiap kali ditanya siapa yang membuat matanya merah, ia hanya menunduk dan bersembunyi di pelukan sang ibu.
“Setiap ditanyakan ‘Siapa yang pukul adek? Matanya kena apa?’ ia tidak pernah menjawab dan lari ketakutan,” ujar Erna.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan penyelidikan kasus ini. (lz)