Viral Sosok Gina Siswi SMP di Lampung Dibully karena Ibu Pemulung, Dikeluarkan atau Mengundurkan Diri?
Didi Agung Eko Purnomo• Jumat, 24 Oktober 2025 | 06:20 WIB
sosok Gina Dwi Sartika (17), siswi SMP di Bandar Lampung, menjadi sorotan usai dikeluarkan dari sekolah karena sering dibully.
SOLOBALAPAN.COM - Sebuah kisah pilu yang menyoroti kerasnya dunia pendidikan dan kemiskinan kini viral di media sosial.
Seorang siswi SMP di Bandar Lampung bernama Gina Dwi Sartika (17) mengaku dikeluarkan dari sekolah setelah ia kerap menjadi korban perundungan (bullying) karena latar belakang ibunya yang bekerja sebagai pemulung.
Namun, pihak sekolah, SMPN 13 Bandar Lampung, membantah keras tudingan tersebut.
Mereka mengklaim bahwa Gina tidak dikeluarkan, melainkan memilih berhenti sekolah sendiri karena merasa minder (rendah diri).
Versi Gina: 'Saya Dihina Miskin, Tukang Rongsok'
Kisah ini pertama kali meledak setelah video curhatan Gina yang menahan tangis viral di media sosial.
Gina, yang seharusnya sudah duduk di bangku SMA namun masih berada di kelas VIII SMP, menceritakan penderitaan yang ia alami.
"Saya sering di-bully sama teman saya, mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan," ungkap Gina, dikutip pada Rabu (22/10/2025).
Ia menceritakan hinaan spesifik yang sering ia terima.
"Ya ngata-ngatain orang tua gitu, kayak ngomong 'ya orang tua lo jelek, miskin, tukang rongsok, enggak usah belagu'," kata Gina.
Yang lebih menyakitkan, saat ia mengadu ke pihak sekolah, ia justru merasa "dibuang".
Pengakuan Ibu: 'Pilih Murid Satu, atau yang Lain Bubar'
Klaim Gina bahwa ia dikeluarkan diperkuat oleh kesaksian sang ibu, Misna Megawati (42).
Misna, yang seorang diri menghidupi enam anak sebagai pemulung, menceritakan respons kepala sekolah saat mengetahui Gina dibully.
"Tiba-tiba dipulangin aja sama guru di sekolah. Ngomong katanya Gina dibully di sekolahan," tutur Misna.
"Terus kata kepala sekolahnya, 'daripada milih murid satu, yang lainnya bubar, ya udah Gina dikeluarin'," imbuh Misna, menirukan dugaan ucapan kepala sekolah.
Sang ibu kini hanya bisa pasrah melihat putrinya murung dan putus sekolah. "Harapan kami anak saya ini bisa jadi orang dan tidak seperti saya," katanya lirih.
Bantahan Keras Pihak Sekolah: 'Dia Minder Sendiri'
Menanggapi tuduhan yang viral ini, pihak SMPN 13 Bandar Lampung membantah keras telah terjadi perundungan apalagi pengeluaran paksa.
Wakil Kepala Sekolah, Abdul Rohman, menyatakan bahwa pihak sekolah justru masih memantau Gina.
Menurutnya, Gina mulai tidak masuk sekolah setelah tantenya—yang mengasuhnya sejak kecil—meninggal dunia pada tahun 2023.
"Tidak ada pembullyan tersebut, mungkin karena anak itu minder dengan sendirinya. Setelah tantenya meninggal, kami lost kontak, dia (Gina) tidak masuk lagi ke sekolah," ujar Abdul Rohman.
Kepala Sekolah SMPN 13 Bandar Lampung, Amaroh, juga membantah telah mengeluarkan Gina.
"Awalnya Gina ingin pindah sekolah, kami baru tahu kemudian bahwa ia akhirnya putus sekolah," ujar Amaroh.
Pihak sekolah mengklaim justru sedang berupaya membantu Gina agar bisa mendapatkan ijazah melalui program Kejar Paket (PKBM), karena melihat Gina kini ikut memulung bersama ibunya.
Fakta di Balik Perang Narasi
Terlepas dari siapa yang benar dalam "perang narasi" ini, fakta yang tak terbantahkan adalah seorang anak berusia 17 tahun kini telah putus sekolah dan kehilangan kesempatannya untuk belajar.
Kisah Gina Dwi Sartika menjadi cerminan pahit dari realitas sosial di mana kemiskinan dan rasa rendah diri masih menjadi tembok penghalang terbesar bagi seorang anak untuk meraih cita-citanya. (did)