SOLOBALAPAN.COM – Kabar duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan Tanah Air.
Timothy Anugrah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, ditemukan meninggal dunia pada Rabu, 15 Oktober 2025, setelah terjatuh dari lantai atas gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kampus Sudirman, Denpasar.
Tragedi ini langsung mengguncang publik dan memunculkan gelombang simpati serta kemarahan di media sosial.
Mahasiswa cerdas dan dikenal sopan itu meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai empat gedung FISIP.
Kasus ini menjadi viral lantaran muncul dugaan bahwa Timothy Anugrah sebelumnya menjadi korban perundungan (bullying) dari rekan-rekan kampusnya.
“Terkait dengan kejadian ini, ibu korban mengikhlaskan kematian korban karena belakangan ini memang ada perubahan perilaku korban, sehingga pihak keluarga tidak melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, dilengkapi surat pernyataan keluarga,” ungkap Kompol I Ketut Sukadi, Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, dikutip pada Sabtu (18/10/2025).
Timothy lahir di Bandung pada 25 Agustus 2003 dan dikenal sebagai mahasiswa yang ramah, sopan, dan cerdas.
Namun di balik senyumnya, ia diduga menyimpan luka batin akibat candaan dan ejekan yang terus-menerus diterimanya di lingkungan kampus.
Kronologi Singkat dan Firasat Sang Ibu
Menurut laporan, peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu siang.
Timothy, mahasiswa semester VII Program Studi Sosiologi angkatan 2022, ditemukan setelah terjatuh dari gedung kampusnya.
Sang ibu, berinisial SKY (48), mengaku sudah merasakan perubahan perilaku anaknya jauh sebelum tragedi itu.
“Terkait dengan perubahan perilaku tersebut, ibu korban tidak pernah mengajak anaknya untuk berobat atau konsul ke psikolog,” lanjut Kompol I Ketut Sukadi.
Ia bahkan sempat datang ke Bali untuk menemani sang anak — namun langkah itu justru menjadi babak terakhir pertemuan mereka.
Pagi nahas itu, sekitar pukul 09.00 WITA, Timothy sempat terlihat panik dan gelisah. Beberapa saat kemudian, terdengar suara keras dari arah bawah gedung.
“Korban mengalami pendarahan pada organ dalam dan kesadaran terus menurun. Pada pukul 13.03 Wita, korban dinyatakan meninggal dunia,” jelas Kompol I Ketut Sukadi.
Setelah kabar duka menyebar, tangkapan layar percakapan dari grup WhatsApp mahasiswa Unud menjadi viral di media sosial.
Media melaporkan bahwa isi percakapan tersebut berisi komentar-komentar yang sangat tidak berempati, bahkan ada yang bernada mengejek kondisi almarhum.
Walau bukan rilis resmi, bocoran chat ini menimbulkan kemarahan publik. Pihak kampus pun segera bertindak tegas.
Enam mahasiswa yang terlibat dalam tindakan tak pantas dan komentar tidak empatik terhadap kematian Timothy dikenai sanksi berat.
Empat mahasiswa yang juga pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud dipecat dari organisasi, sedangkan dua lainnya dijatuhi sanksi akademik berupa nilai D di semua mata kuliah yang sedang diambil.
Para mahasiswa tersebut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui video dan menyatakan siap bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
“Kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tegas Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana dalam keterangan tertulisnya.
Pihak kampus dan keluarga menjelaskan bahwa almarhum memiliki riwayat penanganan masalah kesehatan mental sejak duduk di bangku SMP dan SMA, namun terapi tersebut tidak dilanjutkan saat ia berkuliah.
Klarifikasi ini bukan untuk meniadakan dugaan perundungan, melainkan untuk menunjukkan bahwa ada faktor kompleks yang memerlukan penyelidikan mendalam dan berhati-hati.
Profil dan Akun Instagram Timothy Anugrah
Berikut biodata singkat Timothy Anugrah Saputra berdasarkan informasi yang telah diverifikasi dari berbagai sumber kredibel:
Nama Lengkap: Timothy Anugrah Saputra
Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 25 Agustus 2003
Usia saat Meninggal: 22 tahun
Pendidikan: Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP Universitas Udayana (Unud), angkatan 2022 (Semester VII)
Akun Instagram: @8_11_timothyanugerah
(Catatan: Harap bijak saat mengakses akun pribadi seseorang yang telah meninggal dunia.)
Baca Juga: Mengulik Sejarah Nosferatu: Dari Salah Ucap Penulis Rumania Kuno hingga Ikon Vampir di Film Klasik
Refleksi: Empati yang Hilang dan Pelajaran dari Kepergian Timothy
Tragedi ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa perundungan bukanlah candaan.
Setiap komentar, sekecil apa pun, bisa melukai seseorang lebih dalam daripada yang terlihat.
Kini, sang ibu hanya bisa mengikhlaskan kepergian anaknya, berharap tak ada lagi mahasiswa yang mengalami nasib serupa.
Kepergian Timothy menjadi cambuk moral bagi dunia pendidikan — bahwa kampus semestinya menjadi ruang aman, tempat tumbuhnya empati dan solidaritas, bukan tekanan dan ejekan. (lz)
Editor : Laila Zakiya