Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa Seruan Boikot Trans7 Viral? Buntut Tayangan Soal Santri Lirboyo, Pihak TV Akhirnya Minta Maaf

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 15 Oktober 2025 | 04:35 WIB

Tagar Boikot Trans7 viral di media sosial.
Tagar Boikot Trans7 viral di media sosial.

SOLOBALAPAN.COM – Seruan untuk memboikot stasiun televisi Trans7 (#BoikotTrans7) menggema dan menjadi trending topic di media sosial sejak Selasa (14/10/2025) pagi.

Kemarahan publik ini dipicu oleh sebuah tayangan dalam program investigasi “Xpose Uncensored” edisi Senin, 13 Oktober.

Tayangan tersebut dinilai telah melecehkan dan menggiring opini negatif terhadap kehidupan santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Menanggapi gelombang protes yang masif, pihak Trans7 akhirnya secara resmi menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Permintaan Maaf Resmi dari Trans7

Melalui akun Instagram resmi @officialtrans7, pihak stasiun televisi menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh keluarga besar Ponpes Lirboyo.

“Trans7 dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap kyai dan keluarga, para pengasuh, santri, serta alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” tulis pernyataan resmi tersebut.

Pihak Trans7 juga menyatakan telah menghubungi Gus Adib, salah satu putra dari pendiri Ponpes Lirboyo, KH. Anwar Manshur, dan berencana akan datang langsung ke pesantren pada hari ini, Selasa (14/10), untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

Apa Saja Poin dalam Tayangan yang Dianggap Melecehkan?

Kemarahan publik bukan tanpa alasan.

Program “Xpose Uncensored” menyoroti beberapa tradisi di lingkungan pesantren dengan narasi yang dinilai sangat negatif dan tidak memahami konteks budaya.

Tiga poin utama yang menjadi sorotan adalah:

  1. Sikap Tawadhu' yang Disalahartikan: Tayangan tersebut menyoroti para santri yang berjalan jongkok saat berhadapan dengan kyai.

    Alih-alih dijelaskan sebagai bentuk tawadhu' atau kerendahan hati seorang murid kepada guru, narasi yang dibangun justru terkesan merendahkan.

  2. Pemberian 'Amplop' yang Digiring ke Arah Materi: Adegan saat santri memberikan amplop kepada kyai dinarasikan seolah-olah sebagai cara untuk memperkaya para kyai, yang kemudian dikaitkan dengan kepemilikan mobil mewah dan sarung mahal.

  3. Tradisi Khidmah yang Dianggap Eksploitasi: Momen saat para santri bergotong royong membersihkan lingkungan pondok dan kediaman kyai digambarkan sebagai bentuk eksploitasi.

    Narasi acara menyebut pekerjaan tersebut seharusnya dilakukan oleh asisten rumah tangga, bukan santri.

    Padahal, dalam dunia pesantren, kegiatan ini dikenal sebagai khidmah (pengabdian) yang diyakini sebagai jalan untuk mencari keberkahan ilmu.

Kritik terhadap Jurnalisme Sensasional

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi dunia penyiaran mengenai pentingnya pemahaman konteks budaya dan sensitivitas dalam meliput sebuah tradisi.

Tayangan yang hanya melihat dari permukaan tanpa memahami filosofi di baliknya terbukti dapat melukai perasaan sebuah komunitas besar.

Permintaan maaf dari Trans7 menjadi langkah awal yang penting, namun publik kini menantikan pertanggungjawaban yang lebih substantif agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#santri lirboyo #Boikot trans7 #tv #seruan boikot #Pihak TV