SOLOBALAPAN.COM - Di tengah duka yang menyelimuti tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, sosok pimpinan atau pengasuh pesantren, KH. R. Abdus Salam Mujib, kini menjadi sorotan.
Pernyataannya yang menyebut musibah ini sebagai "takdir Allah SWT" menuai beragam reaksi dari warganet.
Sebagian pihak menilai ucapannya kurang sensitif, namun banyak pula yang memandangnya sebagai wujud ketawakalan seorang pemimpin agama di tengah cobaan berat.
Lantas, siapa sebenarnya sosok di balik institusi bersejarah ini?
Pernyataan di Tengah Duka
Saat insiden terjadi, KH. Abdus Salam Mujib diketahui terus berada di lokasi untuk mengoordinasikan penanganan dan memberikan kekuatan kepada para santri.
Dalam pernyataannya, ia mengajak seluruh keluarga besar pesantren untuk sabar dan ikhlas.
Sikapnya yang menekankan pada takdir inilah yang kemudian menjadi perbincangan.
Bagi sebagian warganet, pernyataan tersebut dianggap kurang berempati.
Namun, di lingkungan pesantren, ucapan tersebut dimaknai sebagai cara untuk menenangkan dan menguatkan iman para santri di tengah kepanikan.
Profil KH. R. Abdus Salam Mujib: Ulama Berpengaruh di Sidoarjo
Jauh sebelum tragedi ini, KH. Abdus Salam Mujib telah dikenal luas sebagai seorang ulama yang berwibawa namun sederhana.
-
Jabatan: Selain menjadi Pengasuh Utama Ponpes Al-Khoziny, beliau juga memegang jabatan sangat terhormat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo.
-
Keturunan: Ia adalah putra dari pimpinan sebelumnya, KH. Abdul Mujib Khozin, dan merupakan bagian dari garis keturunan pendiri pesantren, KH. Raden Khozin Khoiruddin.
Sejarah Panjang Ponpes Al-Khoziny
Ponpes Al-Khoziny, yang didirikan pada awal abad ke-20, merupakan salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Jawa Timur.
Di bawah kepemimpinan KH. Abdus Salam Mujib, pesantren ini terus berkembang dengan memadukan sistem pendidikan salaf (tradisional) dan modern, menarik ratusan santri dari berbagai daerah.
Sosok Pengayom Para Santri
Dalam kesehariannya, KH. Abdus Salam Mujib dikenal sebagai figur yang sangat dekat dengan para santrinya.
Ia sering berbaur tanpa sekat dan dianggap bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sosok ayah yang mengayomi.
Sikapnya yang tetap tenang dan penuh kesabaran di tengah musibah menjadi sumber kekuatan bagi seluruh komunitas pesantren yang sedang berduka.
Kini, ia memikul tanggung jawab yang sangat besar: tidak hanya memimpin proses pemulihan pasca-tragedi, tetapi juga menjaga warisan keilmuan dari salah satu institusi pendidikan Islam paling bersejarah di Sidoarjo. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo