SOLOBALAPAN.COM - Tragedi ambruknya musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, masih meninggalkan duka mendalam.
Memasuki hari ketujuh proses evakuasi, jumlah korban jiwa terus bertambah, dan ratusan petugas masih berjibaku di lokasi reruntuhan demi menemukan para korban yang belum teridentifikasi.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Senin, 29 September 2025 sore, ketika ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah di musala ponpes tersebut.
Bangunan tiga lantai yang mencakup musala dan asrama putra tiba-tiba ambruk sekitar pukul 15.35 WIB, menimbulkan kepanikan dan korban dalam jumlah besar.
Evakuasi Hari Ketujuh: 52 Orang Ditemukan Tewas
Korban jiwa insiden ambruknya musola pondok pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo kembali bertambah.
Kini 52 orang dilaporkan meninggal dunia setelah petugas berupaya mengevakuasi pada Minggu, 5 Oktober 2025.
Jadi berdasarkan data korban pencarian hari ketujuh, dari 156 orang, korban yang selamat sebanyak 104 orang dan korban meninggal 52 orang termasuk 5 bagian tubuh, seperti dikutip dari detikcom.
Adapun korban maupun potongan tubuh yang ditemukan di TKP langsung dilbawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk diidentifikasi oleh Tim DVI.
Sebelumnya, insiden mengenaskan ini terjadi pada Senin, 29 September 2025 sore.
Peristiwa ini terjadi ketika ratusan santri sedang melaksanakan sholat Ashar pada pukul 15.00 WIB.
Sebagian korban berhasil diselamat, sementara sebagian lainnya terjebak di bawah reruntuhan.
Upaya proses evakuasi pun melibatkan alat berat.
Baca Juga: 'Hello My Fiancee', El Rumi Resmi Lamar Syifa Hadju di Swiss, Kapan Hari Bahagianya?
Kendala dan Tantangan di Lapangan
BNPB menyampaikan bahwa proses evakuasi korban di lokasi tidak berjalan mudah.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, mengungkapkan bahwa tim menemukan kendala berupa beton besar yang harus dipotong secara hati-hati agar tidak memicu keruntuhan tambahan.
“Cuma ada satu kendala, beton ada yang menempel di sebelah kiri, Pak Muji dari ITS akan datang sehingga pemotongan beton tak menyebabkan gedung itu akan rusak atau runtuh,” ujar Budi dalam jumpa pers, Minggu (5/10/2025).
Ia menambahkan bahwa sebagian besar korban ditemukan di lantai 1 bangunan.
“Setahu saya ternyata itu kebanyakan korban ditemukan di lantai 1,” terangnya.
Direktur Operasional Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, juga menjelaskan pihaknya kini fokus membuka jalur baru di sisi kanan bangunan dengan melibatkan tenaga ahli.
“Kita maksimalkan seperti tadi malam berlanjut. Kami mohon doa restunya,” ujarnya.
Kondisi Petugas di Lapangan Mulai Menurun
Hingga hari ketujuh pencarian, BNPB mencatat proses evakuasi telah mencapai sekitar 60 persen.
Namun, Budi Irawan mengakui kondisi fisik para petugas di lapangan mulai menurun akibat kelelahan.
“Di hari ketujuh ini saya lihat kondisi dari anggota sudah mulai menurun. Kami berharap tiap-tiap bagian dari Basarnas, BPBD, maupun dari Kodim dan relawan agar bisa menjaga kesehatan,” tuturnya.
BNPB berharap proses evakuasi dapat selesai dalam waktu dekat.
“Kalau dilihat dari lapangan, kegiatan ini tak akan lama lagi. Harapan saya paling lama besok itu sudah rata,” ungkap Budi.
Ia juga menegaskan bahwa BNPB siap memberikan dukungan tambahan agar proses evakuasi berjalan lebih cepat.
Tragedi di Tengah Salat Asar
Seperti diketahui, musibah ini terjadi pada Senin (29/9/2025) sore sekitar pukul 15.35 WIB.
Bangunan tiga lantai yang mencakup musala dan asrama putra tersebut ambruk saat ratusan santri tengah melaksanakan Salat Asar berjamaah.
Hingga kini, proses pencarian korban masih terus dilakukan oleh ratusan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, dan relawan. (lz)
Editor : Laila Zakiya