SOLOBALAPAN.COM – Drama perseteruan antara Nurul Sahara dan Yai Mim kini diramaikan oleh isu baru yang lebih personal dan liar.
Di tengah konflik sengketa lahan, kini beredar tudingan di media sosial yang menyebut Nurul Sahara adalah seorang mantan Lady Companion (LC) atau pemandu karaoke.
Isu ini viral setelah beredarnya sebuah foto lawas yang diklaim sebagai bukti.
Denny Sumargo (Densu), yang ikut terseret dalam polemik ini, akhirnya buka suara dan mengungkap klarifikasi langsung dari Sahara.
'Sahara Mantan LC' - Isu yang Dikonfirmasi Langsung oleh Densu
Dalam sebuah siaran langsung di Instagram, Denny Sumargo mengaku sering melihat komentar dan isu mengenai masa lalu Nurul Sahara tersebut.
Ia bahkan telah melakukan konfirmasi langsung kepada yang bersangkutan.
"Jadi memang ada tuh kayak foto, diduga ya cewek-cewek dikasih tanda panah Sahara," ujar Densu saat membacakan komentar warganet.
Densu kemudian menceritakan langkah yang ia ambil untuk mencari kebenaran. "Itu gue WA (WhatsApp) mbak Sahara. 'Punten ada video ini, ini mbak apa bukan?'" tanyanya.
Sahara pun memberikan jawaban yang tegas. "Terus dia bilang, 'Bukan, demi Allah'," ungkap Densu, menirukan bantahan keras dari Sahara.
Densu Ingatkan Warganet soal Dosa Fitnah
Meskipun telah menyampaikan bantahan Sahara, Denny Sumargo memilih untuk tidak memihak dan menyerahkan penilaian kepada publik.
"Katanya bukan, tapi gue nggak tahu ya. Kalian yang menilai aja sendiri," katanya.
Namun, ia secara khusus memberikan peringatan keras kepada warganet untuk tidak mudah menyebar fitnah, baik kepada Sahara maupun kepada Yai Mim.
"Tapi hal-hal kayak gini gue lihat, orang kalau salah ngomong bisa jadi dosa nggak sih. Kayak ngomongin Yai Mim begini begitu, ngomongin Sahara begini, kalau nggak benar bisa jadi dosa nggak ya," ujarnya.
Konflik yang Semakin Melebar
Bantahan tegas dari Nurul Sahara melalui Denny Sumargo ini menjadi babak baru dalam perangnya melawan narasi negatif di media sosial.
Di sisi lain, isu "mantan LC" ini menunjukkan betapa liarnya konflik antara dirinya dan Yai Mim, yang kini telah melebar jauh dari sengketa lahan menjadi serangan terhadap karakter dan masa lalu pribadi. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo