SOLOBALAPAN.COM - Sebuah kata baru, "hugel", mendadak viral dan menjadi perbincangan luas di media sosial.
Istilah ini mencuat setelah diucapkan secara gamblang oleh anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Wahyudin Moridu, dalam video kontroversialnya saat mengaku ingin "merampok uang negara".
Dalam video tersebut, Wahyudin dengan bangga menyebut bahwa ia sedang bepergian bersama seorang "hugel".
Publik pun bertanya-tanya, apa sebenarnya arti dari kata tersebut dan dari mana asalnya?
Arti 'Hugel': Singkatan dari Hubungan Gelap
Setelah ditelusuri dari berbagai sumber dan percakapan warganet, terungkap bahwa "hugel" adalah sebuah singkatan atau istilah gaul dari frasa "hubungan gelap".
Istilah ini sering kali digunakan untuk merujuk pada beberapa makna, antara lain:
-
Selingkuhan atau pasangan tidak resmi.
-
Orang ketiga dalam sebuah hubungan.
-
Hubungan percintaan yang dijalani secara diam-diam atau di luar ikatan pernikahan yang sah.
Berasal dari Bahasa Gaul Sulawesi Utara
Kata "hugel" diketahui merupakan bahasa gaul yang cukup populer dan sering digunakan oleh masyarakat di kawasan Sulawesi Utara, khususnya di Manado dan sekitarnya.
Penggunaannya yang spesifik secara geografis membuat istilah ini terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Konteks dalam Video Viral Wahyudin Moridu
Dalam video viralnya, Wahyudin Moridu dengan jelas mengatakan, "Membawa hugel (selingkuhan) langsung ke Makassar menggunakan uang negara."
Pernyataan ini, ditambah dengan fakta bahwa wanita yang bersamanya di dalam mobil bukanlah istri sahnya, secara langsung mengonfirmasi bahwa ia sedang mengakui perselingkuhan sambil menyalahgunakan jabatannya.
Memperparah Kemarahan Publik
Penggunaan kata "hugel" secara terang-terangan oleh Wahyudin Moridu dianggap sebagai puncak dari arogansinya.
Ia tidak hanya melontarkan niat untuk korupsi, tetapi juga dengan tanpa beban memamerkan perselingkuhannya.
Kombinasi dua tindakan amoral inilah yang memicu kemarahan dan kecaman yang begitu masif dari publik di seluruh Indonesia. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo