Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Nepal Berguncang: Demonstrasi Gen Z Tewaskan Puluhan Orang, PM dan Presiden Mundur, Larangan Medsos Dibatalkan

Damianus Bram • Rabu, 10 September 2025 | 19:21 WIB
ILUSTRASI. Kerusuhan pecah di Kathmandu, Nepal.
ILUSTRASI. Kerusuhan pecah di Kathmandu, Nepal.

SOLOBALAPAN.COM – Krisis politik Nepal memuncak usai demonstrasi besar-besaran yang didominasi anak muda, dijuluki “Demonstrasi Gen Z”, berakhir ricuh.

Aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi bentrokan berdarah, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Pemerintah Nepal akhirnya mencabut kebijakan larangan media sosial yang sebelumnya diberlakukan.

Namun, gelombang demonstrasi ini memaksa Perdana Menteri K.P. Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel mengundurkan diri, hanya dalam hitungan jam setelah kerusuhan pecah.

Pemerintah Nepal Cabut Larangan Medsos

Juru bicara kabinet sekaligus Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Nepal, Prithvi Subba Gurung, mengumumkan pencabutan larangan 26 platform media sosial, termasuk WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube, hingga LinkedIn.

“Kami memutuskan untuk menarik keputusan penutupan media sosial. Platform-platform tersebut sudah kembali berfungsi saat ini,” ujarnya dikutip Reuters, Selasa (9/9/2025).

Larangan media sosial yang semula diterapkan untuk mencegah hoaks, penipuan, dan ujaran kebencian justru memicu amarah publik.

Aksi Damai Berubah Mematikan

Aksi ribuan demonstran di Kathmandu bermula dengan damai di kawasan Maitighar Mandala, dekat kantor perdana menteri.

Namun situasi berubah saat aparat berusaha membubarkan massa menggunakan gas air mata, water cannon, peluru karet, hingga peluru tajam.

Menurut laporan Al Jazeera, 17 orang tewas di Kathmandu dan dua di Itahari.

Associated Press melaporkan korban tewas terus bertambah menjadi 22 jiwa, termasuk anak muda.

Setidaknya 500 orang terluka, termasuk puluhan aparat keamanan.

Gelombang Mundurnya Elite Politik

Tragedi ini memicu guncangan besar dalam politik Nepal. Selain PM K.P. Sharma Oli, Presiden Ram Chandra Poudel juga menyatakan mundur.

Dua anggota kabinet, termasuk Menteri Dalam Negeri Ramesh Lehlak, ikut mengundurkan diri dalam rapat darurat.

Insiden dramatis terjadi ketika Menteri Keuangan Bishnu Prasad Paudel dikejar dan dipukuli demonstran, memperlihatkan betapa dalamnya krisis kepercayaan publik terhadap elite politik.

Bandara Ditutup, Elite Politik Dievakuasi

Kondisi makin kacau setelah otoritas menutup Bandara Internasional Tribhuvan, pintu masuk utama Nepal, hingga sejumlah penerbangan ke India dibatalkan.

Saksi mata menyebut sekitar sepuluh helikopter mengangkut pejabat tinggi dan keluarga mereka ke lokasi aman, menandakan ketakutan besar di lingkaran elite politik.

Generasi Muda Dorong Balen Shah Jadi Pemimpin Baru

Di tengah gejolak, muncul dorongan rakyat agar Wali Kota Kathmandu, Balen Shah, ditunjuk sebagai pemimpin baru Nepal.

Shah yang dikenal dekat dengan rakyat dipandang mewakili harapan baru generasi muda.

Ia dianggap simbol perlawanan terhadap korupsi, kesenjangan sosial, dan politik lama yang penuh intrik.

Akar Krisis Politik Nepal

Krisis kali ini bukan yang pertama. Sejak berakhirnya monarki pada 2008, Nepal terus dihantui instabilitas politik.

Seringnya pergantian perdana menteri, korupsi, serta kegagalan mengelola ekonomi membuat kepercayaan rakyat semakin menipis.

“Demonstrasi Gen Z” menegaskan betapa generasi muda Nepal menuntut perubahan drastis dalam kepemimpinan dan tata kelola negara. (*)

Editor : Damianus Bram
#Presiden Nepal mundur #demonstrasi #Gen Z #ricuh #Perdana Menteri Nepal #nepal