SOLOBALAPAN.COM - Pasca-insiden penjarahan di rumahnya pada 30 Agustus lalu, politisi Partai NasDem Ahmad Sahroni kembali menjadi pusat perhatian.
Kali ini, sorotan tertuju pada sebuah benda kecil yang ikut hilang: sebuah flashdisk berwarna putih yang diklaim berisi data sangat penting.
Misteri hilangnya flashdisk ini sontak menjadi liar di media sosial, di mana beredar hoaks mengenai video berdurasi 36 menit dan 7 menit yang disebut-sebut sebagai isinya.
Partai NasDem pun akhirnya angkat bicara, menduga ada skenario untuk merusak citra kadernya.
Permintaan Sahroni: 'Tas Ambil, Flashdisk Kembalikan'
Melalui akun X (dulu Twitter) pribadinya, Ahmad Sahroni secara terbuka meminta agar siapa pun yang menemukan flashdisk tersebut untuk mengembalikannya.
Ia bahkan rela merelakan tas yang dicuri bersamanya, asalkan data penting di dalam flashdisk itu kembali.
Permintaan ini justru semakin memanaskan spekulasi publik mengenai betapa krusialnya isi dari flashdisk tersebut.
Hoaks Video 36 Menit dan Jebakan Link Palsu
Tak lama berselang, muncul narasi di TikTok dan X yang mengklaim telah berhasil mengakses dan akan menyebarkan isi flashdisk tersebut, yang disebut-sebut berupa video berdurasi 36 menit dan 7 menit.
Banyak akun anonim menyebarkan tautan (link) palsu yang menjanjikan video lengkap.
Namun, seperti kasus-kasus sebelumnya, tautan ini adalah jebakan yang dirancang untuk penipuan (phishing) atau menyebarkan malware.
NasDem Duga Ada Skenario Pembunuhan Karakter
Menanggapi liar-nya isu ini, Ketua Fraksi Partai NasDem di DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa partainya tidak akan tinggal diam.
Ia menduga bahwa fenomena ini bukan sekadar hoaks biasa, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar.
Menurutnya, ini adalah upaya terencana untuk menyebarkan informasi menyesatkan dan merusak citra Ahmad Sahroni di mata publik.
Pihaknya menyatakan siap menempuh langkah tegas untuk melawan penyebaran disinformasi ini.
Misteri yang Terus Bergulir
Hingga kini, isi sebenarnya dari flashdisk putih milik Ahmad Sahroni tetap menjadi misteri.
Namun, kasus ini telah berkembang dari sekadar insiden kriminal menjadi sebuah perang narasi di dunia digital.
Publik diimbau untuk tidak mudah percaya dan berhati-hati terhadap tautan-tautan palsu yang memanfaatkan rasa penasaran untuk tujuan kejahatan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo