SOLOBALAPAN.COM - Di tengah riuhnya aksi demonstrasi besar-besaran di depan Gedung DPR RI pada 25 Agustus 2025, satu sosok tak terduga berhasil mencuri perhatian dan menjadi viral.
Dia adalah Perdana Mangarana Panjaitan, atau yang lebih dikenal luas sebagai Bang Pascol, seorang streamer dan ikon esports Mobile Legends.
Kehadirannya di barisan depan massa aksi, yang disebut-sebut sebagai "Ketua Naga Hitam", sontak membuat jagat maya heboh.
Lantas, siapa sebenarnya Bang Pascol dan apa perannya dalam demo tersebut?
Viral di Media Sosial: 'Ketua Naga Hitam Jadi Tank'
Momen kehadiran Bang Pascol pertama kali menjadi sorotan setelah akun Instagram @halaman1.id mengunggah fotonya di tengah kerumunan demonstran.
Dengan keterangan foto "Ketua Naga Hitam jadi tank, gokil," unggahan tersebut langsung diserbu komentar warganet.
Banyak penggemarnya yang terkejut sekaligus bangga melihat idola mereka, yang biasanya menghibur di dunia maya, kini turun langsung ke jalan untuk menyuarakan aspirasi.
-
"Ketua ikut demo karena Miyanya di-ban DPR," canda seorang warganet, merujuk pada hero andalan Bang Pascol.
-
"Gak sia-sia join sekte Naga Hitam," timpal yang lain.
Siapa Sebenarnya Perdana 'Bang Pascol' Panjaitan?
Jauh sebelum viral di aksi demo, Bang Pascol adalah nama besar di komunitas esports Indonesia.
-
Nama Asli: Perdana Mangarana Panjaitan
-
Asal: Pematang Siantar, Sumatera Utara
-
Profesi: Profesional esports player (dulu bersama tim GPX), YouTuber, dan Streamer Mobile Legends.
-
Kanal YouTube: @bangpascolidd
-
Akun Instagram: @topglobalmiya_
-
Julukan: Dikenal sebagai "Top Global Miya" karena kehebatannya menggunakan hero Miya.
'Naga Hitam', Bukan Organisasi tapi Komunitas Penggemar
Julukan "Ketua Naga Hitam" sendiri bukanlah posisi formal.
"Naga Hitam" adalah sebutan yang diberikan oleh para penggemarnya untuk komunitas virtual mereka.
Nama ini terinspirasi dari gaya bermain Bang Pascol yang agresif dan setia dalam membela timnya, layaknya seorang pemimpin yang tangguh.
Dari Dunia Game ke Aksi Nyata
Kehadiran Bang Pascol di aksi "Revolusi Rakyat Indonesia" menandai sebuah pergeseran menarik.
Ia tidak hanya berdiri di tengah massa, tetapi juga aktif mengimbau para demonstran untuk menjaga ketertiban dari atas mobil komando.
"Kita datang untuk menyampaikan aspirasi, bukan untuk berantem," serunya melalui megafon.
Menurut pengamat budaya digital, Dr. Rizal Fadli, fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda kini melihat figur publik tidak hanya sebagai penghibur, tetapi juga sebagai suara yang bisa mewakili kepedulian mereka terhadap isu-isu sosial dan politik di dunia nyata. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo