SOLOBALAPAN.COM – Nama Pinkan Mambo kembali jadi sorotan publik. Setelah ramai karena bisnis donat premium seharga Rp200 ribu per kotak, kini mantan personel Duo Ratu itu viral karena menjual pisang goreng seharga Rp30 ribu per biji.
Harga fantastis ini langsung ramai dibicarakan di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan kewajaran harga tersebut, mengingat pisang goreng umumnya dijual jauh lebih murah oleh pedagang kaki lima.
Menanggapi sorotan publik, Pinkan menjelaskan lewat siaran langsung di media sosial bahwa produknya berbeda dari pisang goreng biasa.
Dalam unggahan akun TikTok @calonpenghuni5urga, Pinkan mengklaim cita rasa pisang gorengnya istimewa:
"Kalau digigit nanti lembut seperti surga, seperti bayi, ini pisang rasa surga," ujarnya.
Klaim tersebut memicu beragam reaksi. Sebagian warganet penasaran ingin mencoba, sementara yang lain menanggapinya dengan humor, seperti komentar dari akun TikTok @ak.5.5.24:
"Pisang rasa surga, sekali makan gigi rontok semua."
Selain itu, beberapa netizen menilai langkah Pinkan sebagai strategi marketing.
Harga tinggi justru berhasil menarik perhatian publik, membuat namanya ramai diperbincangkan kembali.
"Trik marketing, makin banyak yang hujat, makin banyak yang penasaran, makin cuan deh dia," tulis Akun TikTok @leo3876.
Fenomena ini menambah daftar tren makanan berharga mahal yang sempat viral di Indonesia, seperti es teh Rp30 ribu dan donat premium ratusan ribu rupiah.
Meski begitu, sejumlah warganet menekankan harga Rp30 ribu untuk satu buah pisang goreng terlalu tinggi, terutama dibandingkan pedagang kecil yang menawarkan camilan serupa dengan harga terjangkau.
Mereka menyoroti bahwa perhatian berlebihan terhadap produk selebritis dapat menutupi perjuangan UMKM yang menggantungkan hidup dari usaha kuliner harian.
Para netizen mengingatkan, meski setiap orang berhak menentukan harga, dukungan masyarakat sebaiknya tetap diarahkan pada pedagang kecil yang menyajikan rasa lezat dengan harga ramah di kantong.
Dengan demikian, fenomena pisang goreng Pinkan Mambo menjadi viral, namun juga menjadi pengingat agar publik tetap menghargai usaha pelaku UMKM. (dam)
Editor : Damianus Bram