SOLOBALAPAN.COM - Sebuah video yang mengklaim Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut guru sebagai "beban negara" viral di media sosial dan memicu kemarahan publik.
Potongan video tersebut menyebar dengan cepat di Instagram dan TikTok sejak diunggah pada 17 Agustus lalu.
Namun, setelah dilakukan verifikasi, dapat dipastikan bahwa video tersebut adalah hoaks.
Konten tersebut merupakan hasil rekayasa atau manipulasi menggunakan teknologi deepfake Artificial Intelligence (AI).
Bantahan Keras dari Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani secara pribadi telah membantah keras narasi dalam video viral tersebut.
Melalui akun X (Twitter) resminya, @smindrawati, pada Selasa (19/8), ia memberikan klarifikasi.
"Potongan video yang beredar yang menampilkan seolah-olah saya menyatakan guru sebagai beban negara adalah HOAX," tulis Sri Mulyani.
"Video tersebut hasil deepfake dan potongan tidak utuh dari pidato saya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu.”
Fakta Sebenarnya: Apa yang Dikatakan Sri Mulyani?
Pernyataan asli Sri Mulyani dalam forum tersebut justru sangat berbeda.
Ia tidak pernah menyebut guru sebagai beban, melainkan menyoroti tantangan keuangan negara dalam meningkatkan kesejahteraan dan gaji guru yang dinilainya masih rendah.
"Banyak di media sosial, saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya enggak besar. Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara," ujarnya kala itu, seperti dikutip tempo.co.
Ia justru membuka diskusi mengenai solusi pendanaan. "Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat," sambungnya.
Hasil Analisis: Terdeteksi sebagai Rekayasa AI
Tim pemeriksa fakta dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) melalui laman TurnBackHoax juga telah menganalisis video tersebut.
Dengan menggunakan perangkat lunak Google SynthID Detector, ditemukan keterangan bahwa konten tersebut bersifat sintetik atau merupakan hasil rekayasa AI.
Komitmen Anggaran Pendidikan
Narasi hoaks ini bertentangan dengan komitmen pemerintah terhadap sektor pendidikan.
Dalam RAPBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk pendidikan, di mana Rp178,7 triliun di antaranya secara khusus ditujukan untuk peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru serta dosen.
Waspada Disinformasi AI
Kasus ini menjadi contoh nyata bahaya deepfake AI yang dapat memanipulasi pernyataan tokoh publik untuk menciptakan kemarahan dan disinformasi.
Publik diimbau untuk selalu kritis dan melakukan verifikasi dari sumber-sumber terpercaya sebelum menyebarkan konten yang bersifat provokatif. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo