SOLOBALAPAN.COM - Nama Gustika Jusuf Hatta mencuri perhatian publik setelah kehadirannya di upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Istana Negara, 17 Agustus lalu.
Bukan karena statusnya sebagai cucu Proklamator Mohammad Hatta, melainkan karena aksi silent protest atau protes hening yang ia lakukan melalui busana yang dikenakannya.
Tampil beda dengan kebaya hitam dan batik bermotif slobog, Gustika menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi bangsa saat ini.
Lantas, siapa sebenarnya sosok intelektual muda yang berani ini?
Profil dan Latar Belakang Keluarga
-
Nama Lengkap: Gustika Fardani Jusuf
-
Lahir: 19 Januari 1994 (Usia 31 tahun)
-
Keluarga: Cucu dari Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta (Bung Hatta). Ibunya, Halida Nuriah Hatta, adalah putri ketiga Bung Hatta.
-
Pendidikan:
-
Bachelor of Arts (Hons) in War Studies - King's College London.
-
Master of Advanced Studies - Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights.
-
-
Instagram: @gustikajusuf
Tumbuh di keluarga yang sarat akan nilai sejarah dan perjuangan, Gustika telah akrab dengan isu-isu sosial-politik sejak usia belia.
Jejak Karier Gemilang sebagai Aktivis dan Peneliti
Sebelum dikenal karena kritiknya, Gustika telah memiliki rekam jejak yang gemilang di kancah nasional maupun internasional. Sejak usia muda, ia aktif sebagai:
-
Delegasi Muda Indonesia: Untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB (2012) dan UNESCO Youth Forum (2013).
-
Peneliti HAM: Bekerja di Imparsial (2020-2022), fokus pada reformasi sektor keamanan, isu Papua, dan kekerasan politik.
-
Konsultan: Menjabat sebagai National Youth Consultant untuk Plan International Indonesia.
Ia juga pernah menjadi anggota Youth Advisory Panel di UNFPA Indonesia dan meraih berbagai penghargaan, termasuk beasiswa penuh dari Nuffic Orange Knowledge Programme di Belanda.
Makna di Balik Kebaya Hitam dan Batik Slobog
Dalam unggahannya di media sosial, Gustika menjelaskan makna di balik busananya.
Kebaya hitam dan batik slobog (yang dalam tradisi Jawa sering digunakan saat melayat) ia pilih sebagai simbol keprihatinan dan masa berkabung atas kondisi bangsa.
Ia secara terbuka melontarkan kritik tajam, menyebut Indonesia kini dipimpin oleh "presiden penjahat HAM dengan wakil presiden anak haram konstitusi," merujuk pada dinamika politik terkini.
Ia juga menyinggung tragedi kekerasan di Pati sebagai bukti nyata dari kondisi yang memprihatinkan.
Suara Kritis Generasi Baru
Gustika Jusuf Hatta membuktikan dirinya lebih dari sekadar cucu seorang pahlawan.
Dengan latar belakang pendidikan hukum humaniter internasional dan pengalaman sebagai peneliti HAM, ia menjelma menjadi suara kritis generasi baru.
Aksi protesnya di Istana Negara menunjukkan bahwa ia tidak ragu menggunakan platform yang ia miliki untuk menagih janji-janji konstitusi dan melanjutkan warisan intelektual kritis dari sang kakek, Bung Hatta. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo