SOLOBALAPAN.COM - Sosok content creator dan konsultan bisnis, Rama Sahid, mendadak viral dan menjadi pusat perbincangan di media sosial.
Ia menjadi sorotan setelah mengunggah video detik-detik dirinya diusir dari sebuah hotel syariah di Pekalongan karena menolak membayar biaya tambahan yang tidak tercantum di aplikasi.
Video tersebut, yang diunggah di akun TikTok @ramasahid pada 15 Agustus 2025, telah ditonton puluhan juta kali dan memicu kemarahan warganet terhadap pihak hotel.
Kronologi: Diminta Biaya Tambahan di Luar Aplikasi
Dalam videonya, Rama Sahid menceritakan bahwa ia telah memesan dan membayar lunas sebuah kamar di Hotel Indonesia Syariah Pekalongan melalui aplikasi online.
Namun, setibanya di lokasi, pihak hotel memintanya membayar uang tambahan sebesar Rp150.000 dengan alasan adanya selisih harga.
Rama menolak permintaan tersebut karena biaya tambahan itu tidak pernah disebutkan di dalam aplikasi pemesanan.
"Biaya tambahannya disebutkan di Traveloka gak? Oke, saya akadnya dengan siapa pak? Traveloka. Kalau misalnya bapak mau minta uang, ini bukan masalah rupiah, ini harusnya bapak mintanya ke Traveloka," ujar Rama dalam perdebatan yang terekam di video.
Alih-alih mencari solusi, pihak hotel justru mengusir Rama Sahid dari kamar yang sudah ia bayar malam itu juga.
Siapa Sebenarnya Rama Sahid?
Di luar insiden viral ini, Rama Sahid dikenal sebagai seorang Professional Trainer, Consultant, dan Entrepreneur.
Ia juga merupakan seorang penulis buku.
Melalui akun media sosialnya, seperti TikTok yang memiliki lebih dari 76 ribu pengikut, ia kerap membagikan konten-konten edukatif seputar bisnis, motivasi, dan kepemimpinan.
Banjir Hujatan untuk Pihak Hotel
Insiden pengusiran ini sontak membuat Hotel Indonesia Syariah Pekalongan menjadi sasaran kemarahan warganet.
Laman ulasan hotel tersebut di Google Maps dan aplikasi pemesanan online langsung dibanjiri rating bintang satu dan komentar pedas yang menyayangkan perlakuan terhadap tamu.
Kasus ini menjadi viral karena dinilai menyoroti praktik tidak transparan yang merugikan konsumen dan arogansi dalam pelayanan.
Publik kini menantikan klarifikasi resmi dari pihak hotel terkait insiden yang telah merusak reputasi mereka. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo