SOLOBALAPAN.COM - Film animasi Merah Putih One for All masih terus menuai kritikan dari masyarakat.
Kualitas visualnya dianggap tidak sepadan dengan biaya produksi yang mencapai Rp6,7 miliar.
Anggapan bahwa pemerintah turut mendanai proyek film ini pun muncul di tengah publik.
Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan bantuan finansial ataupun fasilitas promosi dalam pembuatan film tersebut.
“Semua #Pejuang Ekraf itu bebas berkarya, selama memberi dampak positif. Namun kami tidak memberikan bantuan finansial dan tidak memberikan fasilitas promosi,” kata Irene Umar melalui akun Instagramnya, @irene.umar, Senin (11/8/2025).
Irene menjelaskan bahwa Kementerian Ekraf memang sempat menerima audiensi dari tim produksi film.
Pada saat itu, ia hanya memberikan masukan teknis, seperti saran mengenai cerita, tampilan karakter, dan trailer.
“Hal ini selalu saya lakukan di setiap audiensi dengan semua pihak supaya setiap audiensi saya bisa mendengar langsung dari pelaku industri dan memberikan feedback based on my experience,” ungkapnya.
Sinopsis Singkat Film Merah Putih One for All
Film animasi Merah Putih One for All menceritakan delapan anak dari berbagai latar belakang budaya yang tergabung dalam Tim Merah Putih.
Mereka diberi tugas menjaga bendera pusaka untuk upacara 17 Agustus.
Namun, tiga hari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan, bendera tersebut hilang secara misterius.
Kedelapan anak dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa ini kompak melakukan pencarian.
Mereka harus melintasi sungai dan hutan, serta menghadapi berbagai rintangan.
Para anggota tim harus meredam ego demi satu misi penting: memastikan bendera Merah Putih dapat kembali berkibar pada Hari Kemerdekaan. (dam)
Editor : Damianus Bram