SOLOBALAPAN.COM - Film animasi Merah Putih: One For All mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Bukan karena kualitasnya yang memukau, melainkan karena kritikan tajam dan dugaan bahwa film ini menggunakan aset 3D yang dibeli dari platform berbayar.
Hal ini memicu perdebatan publik, terutama mengingat biaya produksinya yang disebut mencapai angka fantastis, yaitu Rp6,7 miliar.
Isu penggunaan aset siap pakai ini pertama kali mencuat setelah seorang desainer grafis membagikan temuannya.
Ia membandingkan karakter dalam film dengan model 3D yang dijual di platform seperti Daz3D.
Seperti keterangan dalam unggahan tersebut, tampak sebanyak empat model 3D, yaitu Jayden karya Junaid Miran, Tommy karya Chihuahua Studios, serta Ned dan Francis dari Reallusion.
Keempatnya dijual seharga sekitar 43,50 dolar AS atau setara Rp700 ribu.
Perbandingan tersebut menunjukkan kemiripan yang jelas pada bentuk wajah, gaya rambut, dan proporsi tubuh karakter.
Perbedaan yang ada hanya pada warna kulit, kostum, dan beberapa detail minor.
Seorang YouTuber bernama Yono Jambul juga membocorkan bahwa aset-aset seperti latar belakang, juga dibeli dari toko aset digital.
"Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya," ucapnya dikutip pada Sabtu (9/8).
Penggunaan aset yang tidak orisinal ini membuat film terasa aneh dan tidak memiliki nuansa lokal, padahal film ini mengusung tema kebangsaan.
Salah satu hal yang membuat warganet geram adalah biaya produksi yang mencapai Rp6,7 miliar, yang dianggap tidak sebanding dengan kualitas akhir film. Kualitas animasi dan CGI-nya dinilai ketinggalan zaman.
Diketahui bahwa film animasi yang tengah menjadi kontroversi ini disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, sementara produsernya adalah Toto Soegriwo.
Lewat laman instagram-nya, @totosoegriwo, dibocorkan film ini menghabiskan biaya produksi mencapai Rp 6,7 miliar. Proses pengerjaannya makan waktu kurang dari satu bulan saja.
Produser Toto Soegriwo menanggapi kritikan tersebut dengan santai, bahkan terkesan "salty", ia menganggap kritikan netizen justru membuat filmnya menjadi viral.
"Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?," tulis Toto Soegriwo melalui akun Instagram-nya.
Di sisi lain, sutradara M. Ainun Ridho meminta publik untuk bersikap adil karena studio mereka, JAVAX FIlms, masih tergolong baru dalam industri perfilman.
Namun, di mata warganet, alasan tersebut tidak bisa membenarkan kualitas film yang dinilai jauh dari ekspektasi, terutama dengan biaya produksi yang besar. Film ini pun kini mendapat julukan sarkastik "Movie of the Year" dari warganet. (lz)
Editor : Laila Zakiya